KUBU RAYA — Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito mengingatkan bahwa musim kemarau telah tiba dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat meningkat drastis. Pernyataan itu disampaikan usai meninjau langsung kesiapan personel dan peralatan pemadaman di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya.
Dalam apel kesiapsiagaan yang digelar, Pangdam menekankan pentingnya disiplin dalam mengelola lahan. Ia melarang keras aktivitas membuka lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok sembarangan, atau membakar sampah di area yang rawan api.
"Kita sudah mulai memasuki musim kemarau. Potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan sangat tinggi. Saya mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengelola lahan," tegas Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito dalam keterangannya.
Pangdam menyoroti karakteristik wilayah Kubu Raya yang sebagian besar merupakan lahan gambut. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena api dapat menyala di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan jika sudah membesar. Oleh sebab itu, upaya pencegahan dinilai jauh lebih penting daripada penanganan setelah kebakaran terjadi.
Ia meminta masyarakat segera melaporkan jika menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas. Kecepatan respons, menurut Pangdam, menjadi kunci utama mencegah karhutla berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Meski tren kejadian karhutla di Kalimantan Barat, khususnya di Kubu Raya, menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Pangdam meminta seluruh pihak tidak lengah. "Alhamdulillah, tren karhutla saat ini cenderung menurun. Namun kita tidak boleh lengah," pungkasnya.
Pangdam turut mengapresiasi kesiapsiagaan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, TNI, Polri, BPBD, dunia usaha, Manggala Agni, hingga relawan. Menurutnya, sinergi yang sudah terbangun dengan baik harus terus dipertahankan untuk menghadapi ancaman karhutla ke depan.