PONTIANAK — Sebanyak 1.083 titik panas terdeteksi menyebar di 11 kabupaten/kota di Kalimantan Barat hanya dalam rentang 24 jam. Data yang dirilis BMKG Supadio pada Senin (26/7/2026) itu menempatkan Kabupaten Sanggau di posisi paling kritis dengan 276 hotspot, melampaui wilayah lain yang biasanya menjadi langganan karhutla.
Berdasarkan peta sebaran dari sensor satelit VIIRS dan MODIS, berikut lima daerah dengan jumlah titik panas tertinggi:
BMKG mengklasifikasikan 25 titik panas masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi—indikasi kuat telah terjadi kebakaran di lapangan. Sebanyak 1.041 titik lainnya berstatus menengah dan 17 titik berstatus rendah. "Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi memerlukan penanganan cepat karena potensi apinya sudah nyata," tulis BMKG dalam laporannya.
Sementara itu, beberapa daerah lain masih mencatat kemunculan hotspot meski tidak sebanyak lima besar. Kapuas Hulu 67 titik, Sekadau 66 titik, Melawi 40 titik, serta Landak 35 titik. Kota Pontianak dan Bengkayang menjadi satu-satunya wilayah yang nihil titik panas pada periode pengamatan tersebut.
Data hotspot diperoleh dari satelit NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua yang merekam anomali suhu permukaan. Meski demikian, BMKG menegaskan titik panas belum tentu api terbuka—tetap perlu verifikasi langsung di lokasi. Namun jumlah yang melonjak di atas seribu titik dalam sehari menunjukkan tekanan terhadap lahan gambut dan hutan di Kalbar masih besar.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, apalagi di musim kemarau saat ini. Kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, Manggala Agni, BPBD, dan warga menjadi kunci utama mencegah karhutla meluas. Dampaknya tidak hanya kabut asap yang mengganggu kesehatan, tapi juga aktivitas ekonomi dan penerbangan di Pontianak dan sekitarnya.
Pemantauan lanjutan dari BMKG dan patroli gabungan di lapangan dijadwalkan diperketat dalam pekan ini, terutama di Sanggau dan Kubu Raya yang masuk lima besar daerah rawan.