KALIMANTAN BARAT — Paragraf pembuka: Tekanan jual atas saham BYAN berawal dari gangguan produksi yang menimpa tiga anak usaha perseroan. Ketiganya belum mengantongi persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Di tengah situasi itu, kabar akuisisi justru mencuat. Haji Isam disebut mengincar 62 persen saham BYAN dengan nilai penawaran sekitar US$ 3 miliar atau setara Rp 52,65 triliun, memakai asumsi kurs Rp 17.550 per dolar AS.
Saham BYAN sempat menembus Rp 17.272 per saham pada 18 Agustus 2026, melonjak hampir 20 persen ke Rp 17.275 setelah kabar akuisisi pertama kali mencuat. Euforia itu tidak bertahan lama.
Pada 14 September, harga saham BYAN anjlok 11,74 persen ke Rp 10.900. Sebulan terakhir, koreksinya mencapai 29,34 persen. Pasar dinilai sedang menyesuaikan ekspektasi terhadap nilai transaksi yang beredar.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan saham BYAN belum menunjukkan adanya price suppression atau upaya mengondisikan harga menjelang akuisisi. Menurut dia, porsi saham publik atau free float BYAN yang terbatas dan likuiditas perdagangan yang tipis membuat harga saham lebih sensitif terhadap transaksi jual-beli dalam jumlah tertentu.
Nafan menyoroti nilai penawaran US$ 3 miliar berada jauh di bawah nilai pasar perusahaan. Kondisi itu menjadi alasan pelaku pasar melakukan repricing terhadap ekspektasi nilai transaksi.
"Serta penyesuaian ekspektasi terhadap kemungkinan harga transaksi, bukan langsung diasumsikan sebagai rekayasa harga," kata Nafan kepada Katadata.co.id, Selasa (15/9).
Volatilitas akibat spekulasi akuisisi dan aksi ambil untung setelah lonjakan sebelumnya turut memperbesar tekanan jual.
Nafan menilai penurunan harga saham BYAN tetap perlu dicermati apabila akuisisi terealisasi. Sebab, pergerakan harga dapat memengaruhi perhitungan harga minimum dalam Penawaran Tender Wajib atau Mandatory Tender Offer (MTO).
Mengacu pada POJK 9/2018, harga minimum MTO untuk pengambilalihan langsung perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan di bursa memakai nilai yang lebih tinggi antara harga pengambilalihan dan rata-rata harga tertinggi perdagangan harian selama 90 hari kalender sebelum pengumuman pengambilalihan.
Jika harga BYAN terus melemah sebelum periode acuan, rata-rata harga tertinggi selama 90 hari berpotensi ikut turun. Batas bawah harga MTO pun bisa tertekan.
Namun, Nafan menegaskan penurunan itu memiliki batas. Apabila harga akuisisi lebih tinggi dibandingkan hasil perhitungan rata-rata 90 hari, maka harga transaksi pengambilalihan yang menjadi acuan minimum MTO.
"Karena bagi calon pengendali, yang paling penting bukan sekadar membuat harga pasar turun, melainkan tanggal pengumuman transaksi dan harga akuisisi yang disepakati, karena kedua faktor tersebut sangat menentukan formula MTO," ujarnya.
Bloomberg melaporkan entitas yang dikendalikan Haji Isam tengah mengajukan penawaran tunai kepada BYAN. Negosiasi berjalan untuk mengakuisisi 62 persen saham perseroan.
Sumber Bloomberg menyebut pembayaran kemungkinan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus. Kesepakatan pada harga tersebut akan mewakili diskon sekitar 80 persen dari level pasar saat ini.
Keluarga Low berpotensi melepas kepemilikan mayoritas di Bayan dengan diskon besar dari harga saham di pasar. Terbatasnya jumlah saham yang beredar di publik dan tipisnya volume perdagangan BYAN membuat harga pasar tidak sepenuhnya mencerminkan valuasi dalam transaksi berjumlah besar.
Haji Isam merupakan pengusaha asal Kalimantan yang menjadi salah satu pendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden 2024. Konglomerasi bisnisnya, PT Jhonlin Group, telah menjadi salah satu pemain besar di industri pertambangan batu bara Indonesia. Bloomberg sebelumnya melaporkan Jhonlin mengajukan kuota produksi batu bara kepada pemerintah.
Penutup: Bagi investor, tekanan jual BYAN kini bertumpu pada dua hal sekaligus: ketidakpastian izin RKAB tiga anak usaha dan negosiasi akuisisi yang belum final. Selama keduanya belum tuntas, harga saham emiten batu bara ini berpotensi bergerak liar mengikuti setiap perkembangan kabar.