Latihan Perang Jerman: 3.500 Prajurit Brigade Lapis Baja AS Tumbang oleh Drone Ukraina

Penulis: Nurul Huda  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:36:01 WIB
Drone Ukraina berhasil melumpuhkan 3.500 prajurit Brigade Lapis Baja AS dalam latihan perang Combined Resolve di Jerman.

KALIMANTAN BARAT — Kekalahan telak ini terjadi dalam latihan semi-tahunan Combined Resolve di Jerman, di mana pasukan lawan (OPFOR) Angkatan Darat AS diperkuat oleh 412th Unmanned Systems Brigade, atau dikenal sebagai 412 Nemesis. Unit multidomain Ukraina yang berpengalaman perang ini menggunakan drone untuk memburu kendaraan lapis baja berat milik 3rd BCT.

Kendaraan Lapis Baja Jadi Sasaran Empuk Drone

Brigade yang membawa tank M1 Abrams, kendaraan tempur Bradley, dan howitzer M109 Paladin ini kesulitan melindungi asetnya. Debu tebal yang dikeluarkan kendaraan berat saat bermanuver justru menjadi penanda posisi mereka bagi drone pengintai Ukraina.

Begitu terdeteksi, drone FPV (first-person-view) langsung menyerang dengan cara menabrakkan diri ke sasaran, sementara drone serang lainnya menjatuhkan muatan ledakan dari udara. Dalam latihan ini, kendaraan yang dianggap hancur ditandai dengan drone yang melayang di atasnya sebelum dikirim ke belakang untuk "respawn" dan kembali bertempur.

Pengalaman Perang Nyata Ukraina vs Doktrin AS

Kegagalan ini menyoroti perbedaan pendekatan penggunaan drone. AS dikenal sebagai perintis drone untuk pengintaian dan serangan jarak jauh, bahkan tengah mengembangkan drone pengisian bahan bakar untuk pesawat tempur F/A-18. Namun Ukraina, yang bertahan dari invasi Rusia sejak 2022, justru mematenkan perang drone jarak pendek yang masif dan mematikan.

Pengalaman tersebut tidak hanya dipakai di garis depan. Ukraina juga mulai menyerang target strategis jauh di dalam wilayah Rusia, termasuk infrastruktur bensin di Siberia yang berjarak lebih dari 2.500 km dari lokasi peluncuran.

Adaptasi Cepat dan Perdebatan Masa Depan Tank

Meski sempat "dihancurkan" di awal latihan, performa 3rd BCT berangsur membaik. Para prajurit mulai mahir membubarkan formasi, memanfaatkan perlindungan, dan mengurangi jejak visual agar sulit dideteksi drone pengintai. Latihan ini dianggap krusial karena sebagian besar pasukan AS dan NATO terbiasa bertempur melawan gerilyawan bersenjata ringan, bukan lawan dengan teknologi drone canggih.

Hasil latihan ini memicu perdebatan di kalangan militer. Sebagian perwira AS menilai tank belum usang selama masih ada celah di garis depan yang bisa dieksploitasi dengan perang gerak yang melibatkan gabungan infanteri, artileri, dan helikopter. Komandan Ukraina membantahnya, menyebut drone telah membuat perang manuver skala besar tidak praktis dalam kondisi perang saat ini.

Perlombaan Senjata Kontra Drone Global

Kekuatan drone yang ditunjukkan Ukraina mendorong berbagai negara mempercepat pengembangan unit drone mereka sendiri sekaligus mencari penawarnya. Sistem gelombang mikro buatan Lockheed Martin dan laser anti-drone portabel asal China menjadi dua kandidat yang tengah diuji. Jika terbukti efektif di medan perang, teknologi ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan dan memberi keunggulan bagi salah satu pihak.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: tomshardware.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top