Pengamat: Infrastruktur dan Distribusi Jadi PR Besar Industri Kreatif Indonesia Menembus Pasar Global

Penulis: Oman Sudirman  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 13:55:31 WIB
Pengamat budaya populer Hikmat Darmawan menyoroti infrastruktur dan distribusi sebagai pekerjaan rumah utama industri kreatif Indonesia menembus pasar global.

KALIMANTAN BARAT — Jelang Indonesia memasuki usia 81 tahun, deretan nama seperti Agnez Mo, Anggun, hingga grup musik Voice of Baceprot kembali mengharumkan nama bangsa di pentas global. Film-film seperti Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), Before, Now & Then (Nana) (2022), dan Jumbo (2025) juga sukses melanglang buana ke berbagai festival internasional.

Namun, di balik sorotan tersebut, pengamat budaya populer Hikmat Darmawan mengingatkan bahwa Indonesia masih jauh dari memiliki posisi yang kokoh di pasar dunia. Ia menilai ada bahaya besar jika kita hanya larut dalam euforia tanpa membenahi fondasi industri.

Bukan Fenomena Baru, tapi Ada Keterputusan Sejarah

Hikmat menegaskan bahwa pencapaian artis Indonesia di luar negeri bukanlah hal yang baru terjadi. Ia mencontohkan film Badai Selatan (1961) yang telah berkompetisi di Festival Film Internasional Berlin pada 1962, membuktikan bahwa karya Indonesia sudah lama punya ruang dalam percakapan budaya dunia.

"Jadi ada keterputusan dengan sejarah budaya populer di Indonesia yang sebetulnya tidak berangkat dari ruang kosong," kata Hikmat kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

"Jadi sebenarnya kita enggak pernah enggak internasional, cuma memang caranya dan metode, moda produksi dan moda sirkulasinya itu yang perlu dipelajari," lanjutnya.

Kualitas Karya Bukan Satu-satunya Penentu

Menurut Hikmat, kualitas intrinsik sebuah karya tidak otomatis menjamin kesuksesan di pasar internasional. Distribusi dan infrastruktur justru memegang peran yang lebih besar untuk mempertemukan karya dengan audiens yang tepat.

Ia membandingkan jalur sirkulasi Rich Brian dan grup hip-hop asal Bandung, Homicide, yang sama-sama kuat secara kualitas namun menempuh jalan berbeda. Sementara itu, Voice of Baceprot memilih jalur subkultur metal untuk menembus pasar global.

"Sebuah karya boleh sangat bagus, tetapi kalau tidak tersirkulasi dengan baik karena tidak ada kanalnya, hasilnya sama saja," tegasnya.

Jangan Terjebak Middle-Income Trap

Hikmat menilai Indonesia selalu memiliki potensi yang bagus di bidang kreatif. Namun, ia khawatir potensi tersebut tidak akan pernah berkembang jika infrastruktur dan strategi terus diabaikan.

"Dari dulu kita selalu punya potensi yang bagus. Cuma kita bisa terjebak middle-income trap. Itu karena infrastruktur maupun strateginya keropos. Jangan sampai kita keropos terus-terusan dan terus-menerus terjebak pada potensi saja," katanya.

Ia juga menilai Indonesia tidak perlu menjadikan Amerika Serikat atau Eropa sebagai satu-satunya tujuan. Pasar regional dan negara-negara global south juga menjadi peluang besar, termasuk bagi perkembangan karya seperti no na.

Pasar Domestik Adalah Ukuran Keberhasilan Utama

Bagi Hikmat, ambisi untuk mendunia harus berjalan beriringan dengan penguatan pasar dalam negeri. Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan utama seorang seniman atau produser budaya adalah revenue stream, bukan sekadar eksistensi di luar negeri.

"Sudah digarap optimal belum pasar di dalam negeri, pasar domestik? Kita [populasi] 200 berapa juta, itu tuh pasar. Beroptimallah berenang-renang di sini saja dulu," ujarnya.

Tantangan industri kreatif Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, menurutnya, bukan lagi soal membuktikan kualitas talenta lokal. Justru yang lebih krusial adalah membangun sistem yang mampu membuat kualitas itu bertahan dan menghasilkan nilai ekonomi secara berkelanjutan.

"Tapi kalau membangun pasar, dalam arti memakmurkan sebanyak mungkin seniman dengan karya mereka, ya di Indonesia saja masih banyak PR-nya," pungkasnya.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top