BBM di Hulu Kalbar Tembus Rp50 Ribu per Liter, Ria Norsan Desak Pertamina Bergerak Cepat

Penulis: Makmuriyanto  •  Senin, 23 Februari 2026 | 15:40:08 WIB
Gubernur Kalbar Ria Norsan berkoordinasi dengan Pertamina untuk atasi kelangkaan BBM di daerah perhuluan.

Pontianak – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda sejumlah daerah perhuluan Kalimantan Barat mendapat respons cepat dari Gubernur Kalbar, Ria Norsan. Ia langsung berkoordinasi dengan PT Pertamina (Persero) untuk mempercepat pemulihan distribusi yang sempat tersendat.

Gangguan pasokan BBM di wilayah hulu terjadi akibat kondisi air sungai yang surut. Pendangkalan alur sungai dan munculnya hamparan pasir membuat ponton pengangkut BBM kesulitan merapat untuk proses bongkar muat.

Menurut Ria Norsan, kendala tersebut berdampak pada keterlambatan distribusi, terutama di Kabupaten Sanggau dan beberapa daerah lainnya yang bergantung pada jalur sungai.

Harga Eceran Sempat Melonjak

Akibat tersendatnya pasokan, harga BBM di tingkat pengecer dilaporkan melonjak tajam, bahkan mencapai Rp50 ribu per liter di sejumlah titik. Kondisi ini memicu keluhan masyarakat yang bergantung pada BBM untuk aktivitas sehari-hari.

Menanggapi situasi tersebut, Gubernur menegaskan telah meminta Pertamina mengambil langkah konkret dan cepat untuk menormalkan distribusi. Ia menekankan bahwa stabilitas pasokan energi sangat penting, terutama bagi masyarakat di wilayah hulu yang aksesnya terbatas.

Distribusi Mulai Berangsur Normal

Ria Norsan memastikan kondisi mulai membaik setelah dua ponton besar berhasil masuk dan melakukan bongkar muat. Selanjutnya, distribusi dilanjutkan melalui mobil tangki guna mempercepat penyaluran ke berbagai daerah.

Ia optimistis dalam waktu dekat pasokan BBM dan gas akan kembali stabil. Targetnya, pekan depan distribusi sudah berjalan normal dan harga kembali sesuai ketentuan.

Pemprov Kalbar, lanjutnya, akan terus melakukan pemantauan serta memperkuat koordinasi dengan Pertamina agar gangguan distribusi akibat pendangkalan sungai tidak kembali terjadi, terutama saat debit air turun drastis.

Reporter: Makmuriyanto
Back to top