Mercedes Usulkan Mesin V8 Hybrid 1200 HP untuk Regulasi F1 2030

Penulis: Mustofa Kamal  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:02:01 WIB
Mercedes mengusulkan mesin V8 hybrid bertenaga 1200 HP untuk regulasi Formula 1 musim 2030.

Mercedes mengusulkan konsep power unit Formula 1 berkekuatan 1200 HP dengan basis mesin V8 untuk regulasi musim 2030 atau 2031. Gagasan ini muncul sebagai jalan tengah guna mengakomodasi keinginan fans sekaligus menjaga relevansi teknologi industri otomotif di masa depan.

Wacana kembalinya mesin V8 ke lintasan Formula 1 mendapatkan respons serius dari Mercedes. Team Principal Mercedes, Toto Wolff, menyodorkan proposal teknis berupa mesin "super" yang mampu menyemburkan tenaga hingga 1200 HP sebagai basis pengembangan regulasi mesin generasi berikutnya.

Langkah ini menyusul pernyataan Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, yang membuka peluang kembalinya mesin naturally aspirated pada siklus 2030 mendatang. Wolff menilai Mercedes sangat terbuka dengan ide tersebut karena memiliki sejarah panjang dan memori manis bersama konfigurasi mesin V8.

Komposisi 800 Tenaga Kuda dan Sokongan Elektrik

Wolff memandang transisi menuju musim 2030 harus tetap menjaga keseimbangan antara performa murni dan efisiensi. Ia mengusulkan pembagian tenaga yang masif agar F1 tetap menjadi kasta tertinggi balap mobil dunia tanpa meninggalkan aspek elektrifikasi yang menjadi tren global.

"Mungkin kita bisa mengekstrak 800 tenaga kuda dari mesin pembakaran internal dan menambahkan 400 tenaga kuda lagi, atau lebih, dalam hal energi listrik," ujar Wolff. Ia menegaskan kesiapan Mercedes untuk berdiskusi selama proses tersebut dilakukan secara terstruktur dan mempertimbangkan realitas finansial pabrikan (OEM).

Pria asal Austria itu juga mengingatkan agar F1 tidak beralih sepenuhnya ke mesin pembakaran internal (ICE). Menurutnya, meninggalkan teknologi hibrida akan membuat ajang balap jet darat ini terlihat tertinggal dari perkembangan teknologi dunia nyata pada awal dekade mendatang.

Dilema Berat Baterai dan Daya Tarik Pabrikan Global

Saat ini, F1 menggunakan mesin V6 turbo hibrida yang sering dikritik karena terlalu rumit, mahal, dan sangat berat akibat bobot baterai. Namun, regulasi inilah yang berhasil menarik minat raksasa otomotif seperti Ford, Audi, dan General Motors (Cadillac) untuk bergabung, serta meyakinkan Honda untuk tetap bertahan.

Wolff menyadari beban finansial yang dihadapi pabrikan saat ini tidaklah mudah. Namun, jika direncanakan dan dieksekusi dengan matang, Mercedes optimistis F1 bisa kembali memiliki mesin balap yang sesungguhnya tanpa kehilangan daya tarik bagi investor otomotif besar.

Evaluasi 2026 dan Desakan Kecepatan Straight Mode

Mengenai regulasi 2026 yang sempat dikritik sejumlah pembalap karena aksi salip-menyalip yang dianggap "buatan", Wolff justru membela arah kebijakan FIA saat ini. Ia meminta pihak-pihak yang skeptis untuk melihat persaingan yang kini semakin ketat, baik di posisi terdepan maupun di lini tengah.

Meski membela regulasi yang ada, ia mengakui ada ruang untuk perbaikan jangka pendek, terutama terkait manajemen energi dan kecepatan di lintasan lurus. Wolff mendesak adanya pengoptimalan performa pada sektor tersebut agar balapan tetap spektakuler.

"Saya rasa kita membutuhkan kecepatan lintasan lurus yang lebih tinggi dengan mode SM (Straight Mode). Kita perlu lebih berani dalam melakukan itu," tegas Wolff. Ia tidak keberatan jika ada penyesuaian performa dari mesin pembakaran internal dalam jangka menengah, asalkan tim diberikan waktu yang cukup untuk pengembangan.

Reporter: Mustofa Kamal
Sumber: crash.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top