JAKARTA — Mata uang rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap dollar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan pantauan di platform Google Finance pada pukul 09.03 WIB, kurs 1 dollar AS tercatat sudah menyentuh angka Rp 17.603,20.
Data dari Morningstar yang ditampilkan melalui Google Finance mengonfirmasi pergerakan tersebut. Sementara itu, di platform Bloomberg, posisi rupiah juga terpantau masih berada dalam tren melemah yang cukup konsisten terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Sebelum menembus level psikologis Rp 17.600, rupiah sebenarnya ditutup pada level Rp 17.529 per dollar AS pada sesi perdagangan terakhir. Saat pasar dibuka hari ini, mata uang Garuda sempat bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.540 hingga Rp 17.550 per dollar AS.
Namun, tekanan jual yang tinggi membuat nilai tukar terus merosot hingga melewati batas Rp 17.600 dalam waktu singkat. Reuters juga melaporkan bahwa rupiah sempat menyentuh rekor terlemah baru di level Rp 17.535 per dollar AS akibat kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Kombinasi antara kenaikan harga minyak dan sentimen negatif di pasar uang membuat investor cenderung menarik modalnya dari pasar negara berkembang. Hal ini memperparah posisi rupiah yang sudah tertekan sejak pembukaan perdagangan.
Tekanan terhadap mata uang lokal tidak lepas dari penguatan dollar AS di pasar global. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya sentimen risk off akibat konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan yang membebani rupiah.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia masih menjadi beban bagi mata uang di kawasan regional. Kondisi ini membuat rupiah sulit untuk bangkit dalam waktu dekat.
“Rupiah dan mata uang regional terpantau melemah cukup besar terhadap dollar AS oleh harga minyak mentah dunia yang kembali naik,” kata Lukman Leong dikutip dari Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Kondisi pasar yang belum stabil membuat sejumlah analis memberikan peringatan terkait potensi pelemahan lebih lanjut. Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada harga minyak jenis Brent dan pemulihan arus modal asing ke dalam negeri.
Josua Pardede memproyeksikan bahwa rupiah masih memiliki ruang untuk melemah jika variabel-variabel ekonomi global tidak segera membaik. Jika level tertentu terlampaui, tekanan terhadap rupiah diprediksi akan semakin berat.
“Jika Brent bertahan di atas 110 dollar AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800,” ujar Josua Pardede dikutip dari Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Apa penyebab utama rupiah melemah hingga Rp 17.600?
Pelemahan ini disebabkan oleh penguatan dollar AS secara global, lonjakan harga minyak mentah dunia, serta meningkatnya kekhawatiran investor akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Bagaimana proyeksi nilai tukar rupiah ke depan?
Analis memprediksi rupiah berisiko menguji level Rp 17.800 per dollar AS apabila harga minyak Brent tetap bertahan di atas 110 dollar AS per barel dan belum ada pemulihan arus modal asing yang signifikan ke pasar keuangan domestik.