SAMBAS — Jembatan Sabung Setangga di Dusun Sabung Setangga, Desa Sejangkung, kembali menjadi lokasi kecelakaan maut. Warga setempat mengaku sudah muak dengan kondisi jembatan yang terus memakan korban tanpa ada perbaikan berarti dari pihak berwenang. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, angka korban di jembatan tersebut sudah tidak bisa dihitung lagi karena seringkali peristiwa tenggelam tidak dilaporkan secara resmi.
Jembatan yang membentang di atas Sungai Sambas ini merupakan akses utama bagi warga dari beberapa desa untuk beraktivitas sehari-hari. Namun, kondisinya sangat memprihatinkan. Struktur kayu yang mulai lapuk dan tidak adanya pagar pembatas membuat jembatan ini sangat berbahaya, terutama saat kondisi licin atau banjir.
Keluhan mengenai kondisi Jembatan Sabung Setangga sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Warga mengaku telah berkali-kali melaporkan kondisi ini ke perangkat desa dan kecamatan. Namun, hingga kini belum ada solusi permanen dari Pemerintah Kabupaten Sambas. Jembatan ini menjadi satu-satunya penghubung antar dusun, sehingga warga tidak punya pilihan selain terus menggunakannya meski dalam kondisi bahaya.
Lokasi Jembatan Sabung Setangga berada di pedalaman yang akses jalannya masih terbatas. Pembangunan jembatan permanen berbahan beton membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Warga menilai, pemerintah daerah belum memasukkan proyek ini ke dalam prioritas pembangunan infrastruktur. Akibatnya, jembatan kayu yang sudah puluhan tahun ini tetap dipertahankan tanpa perawatan yang memadai.
"Kami sudah pasrah. Setiap kali ada korban, kami hanya bisa mengangkat jenazah. Tidak ada tindak lanjut," ujar seorang tokoh masyarakat setempat kepada Tribunpontianak.co.id.
Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Sambas untuk segera turun tangan. Mereka meminta agar jembatan ini segera direnovasi total atau dibangun ulang dengan konstruksi yang lebih aman. Selain itu, pemasangan rambu peringatan dan penerangan di sekitar jembatan juga dinilai mendesak untuk mengurangi risiko kecelakaan, terutama pada malam hari.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sambas mengenai rencana perbaikan Jembatan Sabung Setangga. Warga berharap tragedi berulang kali ini bisa menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Menurut pengakuan warga, angka pasti korban jiwa di jembatan ini tidak pernah tercatat secara resmi. Namun, warga menyebutkan bahwa hampir setiap tahun terjadi insiden tenggelam di titik tersebut, baik akibat terpeleset maupun terjatuh saat melintas di malam hari. Banyak korban adalah anak-anak dan warga lanjut usia.
Warga mendesak agar Pemkab Sambas segera membangun jembatan permanen yang layak dan aman. Mereka juga meminta agar selama proses pembangunan, disediakan akses alternatif atau jembatan darurat yang lebih aman. Tanpa tindakan nyata, warga khawatir jembatan ini akan terus menjadi kuburan massal bagi mereka yang tak punya pilihan transportasi lain.