BENGKAYANG — Di balik hiruk-pikuk perkebunan sawit dan pertambangan modern, Kecamatan Monterado menyimpan lapisan sejarah yang dalam. Wilayah ini merupakan salah satu pusat kegiatan kongsi tambang emas Tionghoa pada abad ke-18 dan ke-19, meninggalkan jejak berupa situs-situs purbakala, tradisi lisan, serta bangunan tua yang masih dirawat oleh komunitas setempat.
Masyarakat keturunan Tionghoa di Monterado, yang sebagian besar masih menjalankan ritual leluhur seperti sembahyang di klenteng tua, menjadi penjaga utama warisan ini. Mereka hidup berdampingan dengan warga Dayak dan Melayu, menciptakan harmoni budaya yang unik. Kegiatan pertambangan emas rakyat yang dilakukan secara tradisional juga masih berlangsung, meski skalanya jauh berkurang dibanding era kejayaan kongsi.
Selain nilai sejarahnya, Monterado memiliki potensi geografis yang signifikan. Aliran Sungai Monterado yang membelah kecamatan ini menyediakan sumber air bagi pertanian dan pertambangan rakyat. Di sektor ekonomi, UMKM kerajinan perak dan emas khas Monterado mulai dilirik pasar regional. Pemerintah Kabupaten Bengkayang pun tengah mendorong pengembangan desa wisata berbasis sejarah di kawasan ini.
Keunikan budaya Monterado terletak pada perpaduan tradisi Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang berlangsung selama berabad-abad. Salah satu contohnya adalah tradisi Cap Go Meh yang dirayakan meriah setiap tahun, diiringi dengan pawai lampion dan pertunjukan barongsai yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Akulturasi ini tidak hanya terlihat dalam ritual, tetapi juga dalam kuliner dan arsitektur rumah-rumah tua di sepanjang jalan utama.
Monterado dapat ditempuh dari Kota Singkawang dalam waktu sekitar satu jam perjalanan darat. Jalannya sudah beraspal hotmix, meski sebagian ruas masih sempit. Fasilitas pendukung seperti penginapan dan rumah makan masih terbatas, namun beberapa homestay mulai dirintis oleh warga setempat. Pemerintah daerah berencana membangun pusat informasi wisata di bekas kantor kongsi tua yang telah direnovasi.
Pemerintah Kabupaten Bengkayang bersama komunitas pegiat sejarah tengah menyusun rencana inventarisasi situs-situs bersejarah di Monterado. Langkah ini diharapkan dapat menguatkan status kawasan sebagai cagar budaya dan membuka peluang investasi di sektor pariwisata. Beberapa akademisi dari Universitas Tanjungpura juga telah melakukan penelitian etnografi di wilayah ini untuk mendokumentasikan tradisi lisan yang mulai tergerus zaman.