Keluarga Korban Tesla Model 3 Tewas Tertabrak di Dalam Rumah Gugat Tesla dan Pengemudi, Tuntut Ganti Rugi Rp 16 Miliar

Penulis: Nurul Huda  •  Kamis, 25 Juni 2026 | 10:21:31 WIB
Keluarga korban kecelakaan Tesla Model 3 di Kalimantan Barat mengajukan gugatan ganti rugi Rp 16 miliar.

KALIMANTAN BARAT — Kecelakaan terjadi sekitar pukul 20.00 waktu setempat di Rose Hollow Lane. Michael Butler, pengemudi berusia 44 tahun, melaju ke timur sebelum mobilnya menerobos tembok depan rumah keluarga Barbour. Avila yang sedang berdiri di ruang depan langsung terjepit puing reruntuhan. Ia dilarikan ke rumah sakit dengan helikopter, namun dinyatakan meninggal dunia. Justin Barbour, menantu korban yang berada di dalam rumah, mengalami cedera leher, punggung, dan bahu. Rumah tersebut kini tidak bisa dihuni, memaksa keluarga tinggal di hotel.

Gugatan Tumpu pada Preseden Hukum Florida

Kuasa hukum keluarga, Chris Adkins dari firma Zehl & Associates, mendasarkan gugatan pada argumen yang sama dengan kasus landmark tahun lalu di Florida. Dalam kasus tersebut, juri federal Miami memvonis Tesla bertanggung jawab 33 persen atas kecelakaan fatal tahun 2019 di Key Largo, di mana pengemudi George McGee menggunakan Autopilot dan menabrak persimpangan dengan kecepatan 100 km/jam.

Juri saat itu memutuskan Tesla harus membayar ganti rugi sekitar Rp 3,9 triliun (USD 243 juta) karena pemasaran dan sistem pemantauan pengemudi berbasis torsi setir dianggap menciptakan kesan palsu tentang kemampuan mobil. Putusan itu dikuatkan hakim federal pada Februari lalu.

Argumen Tesla: Pengemudi Injak Pedal Gas Penuh

Tesla sudah menyiapkan pembelaan. Kepala AI Tesla, Ashok Elluswamy, mengklaim data kendaraan menunjukkan Butler "secara manual mengesampingkan sistem self-driving dengan menginjak pedal akselerasi hingga 100 persen di area perumahan." Mobil mencapai kecepatan 117 km/jam dengan pedal masih tertekan setelah tabrakan. Elon Musk menambahkan, "FSD melaju pelan di jalan perumahan. Ini kecelakaan kecepatan tinggi!"

Kantor Sheriff Harris County tidak menemukan bukti kerusakan mekanis. Butler tidak menunjukkan tanda mabuk dan kooperatif saat diperiksa. Versi Tesla mengarah pada pedal misapplication — pengemudi salah menginjak gas, bukan rem.

Pertanyaan Kunci: Kenapa Pengemudi Injak Gas Penuh?

Seperti kasus Florida, pengemudi kemungkinan akan menanggung sebagian besar kesalahan. Namun pertanyaan yang terus dihindari Tesla adalah: mengapa pengemudi berpengalaman bisa menginjak pedal gas penuh hingga menabrak rumah?

Jawaban paling masuk akal justru selaras dengan narasi Tesla sendiri. Pengemudi menggunakan FSD, mobil melakukan sesuatu yang tidak ia duga saat mendekati tikungan, dan dalam kepanikan mengintervensi, ia menginjak pedal gas alih-alih rem dan menahannya. Ini masalah complacency yang sudah sering disorot — sistem Level 2 yang cukup baik untuk membuat pengemudi lengah, namun tidak cukup andal saat intervensi darurat diperlukan.

Data EDR Akan Jadi Kunci, Bukan Klaim Tesla

Hanya data log dan kesaksian pengemudi yang bisa menjawabnya. Dalam kasus Florida, Tesla sempat mengklaim data kecelakaan tidak ada hingga peneliti independen berhasil memulihkannya. Kini, NHTSA telah membuka Investigasi Kecelakaan Khusus dan akan menarik event data recorder secara independen. Itulah versi data yang akan menjadi acuan pengadilan.

Gugatan meminta Tesla mengamankan kendaraan, perekam data, log Autopilot dan FSD, telemetri, versi firmware, serta data kamera dan sensor. Proses pengadilan akan menentukan apakah Tesla kembali harus bertanggung jawab atas kecelakaan fatal yang melibatkan sistem bantuan mengemudinya.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top