Festival Literasi Budaya Kalimantan Barat Resmi Dibuka di Kayong Utara, Ajak Generasi Muda Jaga Warisan Leluhur Lewat Konten Digital

Penulis: Nurul Huda  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 19:35:01 WIB
Festival Literasi Budaya Kalimantan Barat resmi dibuka di Kayong Utara, mengajak generasi muda menjaga warisan leluhur.

KAYONG UTARA — Festival Literasi Budaya Kalimantan Barat resmi dibuka di Cafe Biva Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, pada Kamis (09/07). Acara yang digelar selama dua hari ini mengusung tema "Menggali, Melindungi dan Melestarikan Warisan Budaya yang Tersisa" dan diikuti oleh puluhan pelajar SMA/sederajat serta pegiat literasi lokal.

Mengapa Festival Ini Digelar?

Perwakilan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara, Heru, dalam sambutannya menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang berkumpul. Menurutnya, kegiatan ini merupakan ruang tempa kreatif yang memadukan dua hal penting: literasi dan budaya.

"Literasi tanpa akar budaya akan membuat kita kehilangan identitas. Sebaliknya, budaya tanpa sentuhan literasi modern akan membuat kita tertinggal dan terlupakan oleh zaman. Melalui festival inilah kedua hal tersebut kita kawinkan," ujar Heru.

Dukungan Penuh dari Pusat hingga Daerah

Festival ini mendapat sokongan dari Kementerian Kebudayaan RI, LPDP, dan Dana Indonesiana. Selain itu, panitia yang diketuai oleh Kushariyanto juga bersinergi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara untuk memastikan acara berjalan lancar.

Ketua Panitia Kushariyanto menyampaikan rasa haru dan bangganya atas terwujudnya ruang kreatif ini. Ia berharap kegiatan ini menjadi aksi nyata dalam menjaga warisan leluhur di tanah bertuah Kayong Utara.

Warisan Budaya yang Jadi Pemicu

Momentum festival ini terasa semakin relevan setelah tradisi "Nyapat Taon", salah satu warisan leluhur Kayong Utara, baru saja sukses dicatatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). Tradisi ini menjadi bukti bahwa Kayong Utara memiliki kekayaan budaya yang perlu dilestarikan.

Bekal Literasi Digital untuk Generasi Muda

Selama dua hari pelaksanaan, para peserta akan dibekali berbagai disiplin ilmu penting. Fokus utamanya adalah literasi digital, di mana generasi muda diharapkan mampu mengambil tongkat estafet untuk menyuarakan dan mempromosikan keluhuran budaya lokal ke panggung dunia.

Mereka dilatih untuk membuat konten-konten produktif dan positif di media sosial. Dengan bekal ini, warisan budaya Kayong Utara tidak hanya tersimpan di museum, tetapi hidup dan dikenal luas oleh generasi muda di era digital.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: pontianakpost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top