Pakar FMIPA Untan Sebut 3 Daerah di Kalbar Paling Rentan Kekeringan Akibat El Nino 2026, Ini Daftarnya

Penulis: Mustofa Kamal  •  Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:21:31 WIB
Dosen FMIPA Untan identifikasi Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya sebagai daerah paling rentan kekeringan akibat El Nino 2026.

PONTIANAK — Dosen Program Studi Geofisika FMIPA Universitas Tanjungpura, Andi Ihwan, mengidentifikasi tiga kabupaten di Kalimantan Barat yang masuk kategori paling rentan terhadap dampak El Nino. Wilayah dengan pola curah hujan monsunal itu adalah Ketapang, Kayong Utara, dan sebagian Kabupaten Kubu Raya.

Mengapa Wilayah Monsunal Paling Terancam?

Menurut Andi, perbedaan pola hujan menentukan tingkat kerentanan suatu daerah. Wilayah monsunal memiliki musim kemarau yang lebih tegas dan panjang dibandingkan daerah ekuatorial.

"Daerah yang berpola curah hujan monsunal seperti Ketapang, Kayong Utara, dan sebagian Kabupaten Kubu Raya akan lebih rentan mengalami kekeringan berkepanjangan akibat El Nino," ujarnya.

Sementara itu, wilayah di sekitar garis khatulistiwa seperti Pontianak, Mempawah, dan sekitarnya memiliki pola hujan ekuatorial. Karakteristik dampaknya pun berbeda karena distribusi hujan lebih merata sepanjang tahun.

Ancaman Karhutla di Lahan Gambut

Andi mengingatkan bahwa kekeringan berkepanjangan berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, khususnya di kawasan gambut. Kondisi serupa pernah terjadi saat El Nino kuat pada 1997, 2015, dan 2019 yang mengakibatkan kebakaran skala besar di Kalbar.

Lahan gambut yang mengering sangat mudah terbakar. Berbeda dengan tanah mineral, api di lahan gambut membakar lapisan bawah permukaan.

"Nah jika terjadi kebakaran di bawah permukaan maka sangat sulit untuk dipadamkan," kata Andi.

Dampak Lain: Debit Sungai Turun hingga Gagal Panen

Selain karhutla, kekeringan ekstrem juga mengancam sektor pertanian. Andi menyebut potensi gagal panen meningkat drastis jika musim kemarau berlangsung lebih lama dari normal.

Debit sungai yang menurun drastis juga membuka celah intrusi air laut ke daratan. Kondisi ini bisa mengganggu kualitas sumber air baku yang digunakan perusahaan daerah air minum (PDAM) di wilayah pesisir.

Faktor Manusia Memperparah Risiko

Andi menambahkan, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih dilakukan sebagian masyarakat turut memperbesar potensi bencana. Jika tidak dikontrol, kebakaran bisa meluas dan menghasilkan kabut asap tebal.

"Nah jika ini tidak dikontrol maka ini akan memicu terjadinya bencana kebakaran hutan atau kebakaran lahan yang sangat besar, dan berdampak terjadinya kabut asap," ujarnya.

Reporter: Mustofa Kamal
Sumber: pontianakpost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top