Suhu Dalam Rumah Tembus 31 Derajat, Riset UGM Sebut Lansia di Kalbar Rentan Alami Heat Stroke

Penulis: Nurul Huda  •  Minggu, 12 Juli 2026 | 17:26:23 WIB
Suhu dalam rumah lansia di Kalbar tercatat mencapai 31 derajat Celsius, berisiko menyebabkan heat stroke.

PONTIANAK — Cuaca panas bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan, melainkan ancaman kesehatan yang bisa terjadi di dalam rumah sendiri. Penelitian terbaru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap bahwa suhu tinggi di dalam hunian, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia), secara signifikan meningkatkan risiko heat stress yang berujung pada kondisi gawat darurat seperti heat stroke.

Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Aditya Lia Ramadona, menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan di Yogyakarta mencatat suhu rata-rata di dalam rumah para lansia mencapai 31 derajat Celsius. Angka ini berada di atas ambang batas aman bagi tubuh manusia, terutama bagi mereka yang memiliki sistem termoregulasi yang melemah.

Setiap Kenaikan 1 Derajat, Risiko Naik 32 Persen

Tim peneliti menemukan korelasi yang mengkhawatirkan. Setiap kenaikan selisih suhu antara di dalam dan luar rumah sebesar 1 derajat Celsius, risiko seorang lansia mengalami heat stress meningkat sekitar 32 persen. Artinya, rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru bisa menjadi perangkap panas.

"Suhu tubuh meningkat dengan cepat, sementara mekanisme pendinginan alami seperti berkeringat tidak lagi bekerja efektif," ujar Ramadona dalam keterangan resmi, Jumat (10/7/2026). Ia menegaskan bahwa dampak paling serius dari paparan panas berlebih adalah heat stroke, yaitu kondisi ketika tubuh tidak lagi mampu mengatur suhu internal sehingga fungsi organ vital dan otak terganggu.

Gejala yang Sering Diabaikan

Heat stroke tidak datang tanpa tanda. Gejalanya meliputi suhu tubuh yang sangat tinggi, kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga penurunan kesadaran. Namun, kesadaran masyarakat terhadap ancaman ini dinilai masih rendah karena cuaca panas kerap dianggap sebagai hal biasa di negara tropis seperti Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat.

Penelitian yang sama juga menunjukkan dampak panas ekstrem pada kelompok rentan lainnya. Kenaikan suhu rata-rata mingguan sebesar 1 derajat Celsius berkaitan dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer. Ini membuktikan bahwa gelombang panas tidak hanya mengancam lansia, tetapi juga ibu hamil dan balita.

Langkah Adaptasi yang Bisa Dilakukan

Untuk menekan risiko, masyarakat dianjurkan menjaga kecukupan cairan, mengenakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat, serta membatasi aktivitas berat pada siang hari. Aktivitas fisik maupun pekerjaan berat sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu udara lebih bersahabat.

Jika merasa pusing, mual, atau kulit terasa panas dan kering meski tidak berkeringat, segera berteduh di tempat yang lebih sejuk dan basahi tubuh dengan air. Mengenali tanda-tanda awal gangguan akibat panas menjadi kunci untuk mencegah kondisi yang lebih parah.

Dukungan Kebijakan Diperlukan

Ramadona menegaskan, adaptasi terhadap panas ekstrem memerlukan dukungan kebijakan yang komprehensif. Mulai dari sistem peringatan dini, penyesuaian jam kerja dan sekolah, perlindungan bagi pekerja luar ruangan, hingga penguatan layanan kesehatan.

"Panas ekstrem kini bukan sekadar persoalan cuaca, melainkan telah menjadi tantangan kesehatan masyarakat dan ketahanan sosial," ujarnya. Di provinsi seperti Kalbar yang memiliki iklim tropis lembap, kesiapsiagaan terhadap ancaman ini menjadi semakin mendesak seiring dengan perubahan iklim global.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: suarakalbar.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top