Tugu Khatulistiwa Pontianak, Penanda Garis Nol Derajat yang Sarat Sejarah

Penulis: Mustofa Kamal  •  Minggu, 12 Juli 2026 | 23:32:32 WIB

Kota Pontianak memiliki satu ikon yang sangat identik dengan posisi geografisnya, yaitu Tugu Khatulistiwa. Bangunan ini menjadi penanda titik yang dilewati garis khatulistiwa atau garis equator bumi.

Selain menjadi objek wisata, tugu ini juga berfungsi sebagai lokasi edukasi astronomi, sehingga banyak dikunjungi pelajar maupun wisatawan yang ingin memahami fenomena unik terkait posisi garis lintang nol derajat.

Berikut sejarah, struktur bangunan, dan fenomena unik yang terjadi di sekitar Tugu Khatulistiwa Pontianak.

Sejarah Penentuan Titik Khatulistiwa

Sejarah tugu ini bermula pada 31 Maret 1928, ketika sebuah ekspedisi internasional yang dipimpin ahli geografi asal Belanda datang ke Pontianak untuk menentukan titik pasti garis equator di kota tersebut.

Tugu pertama yang dibangun pada 1928 berbentuk tonggak sederhana dengan anak panah penunjuk arah. Bangunan ini kemudian disempurnakan pada 1930 dengan tambahan bentuk lingkaran, dan direnovasi kembali pada 1938 oleh arsitek Friedrich Silaban.

Pada 1990, tugu direnovasi lagi dengan penambahan kubah pelindung untuk tugu asli, sekaligus pembuatan duplikat tugu berukuran lima kali lebih besar. Duplikat ini diresmikan pada 21 September 1991 oleh Gubernur Kalimantan Barat saat itu.

Struktur dan Detail Bangunan

Bangunan tugu terdiri atas empat tonggak kayu belian dengan diameter masing-masing 0,30 meter. Dua tonggak bagian depan memiliki tinggi 3,05 meter, sementara tonggak bagian belakang yang menopang lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.

Pada bagian tengah lingkaran tugu tertulis kata "EVENAAR", istilah dalam bahasa Belanda yang berarti Equator. Diameter lingkaran ini mencapai 2,11 meter, dengan panjang penunjuk arah 2,15 meter.

Di bagian bawah anak panah tertera plat bertuliskan koordinat 109° 20' OLvGr yang menunjukkan posisi bujur timur berdirinya tugu, sebuah detail yang memperkuat fungsi tugu sebagai penanda astronomis, bukan sekadar monumen dekoratif.

Fenomena Titik Kulminasi Matahari

Salah satu daya tarik utama Tugu Khatulistiwa adalah fenomena titik kulminasi matahari, yaitu momen ketika matahari berada tepat di garis khatulistiwa sehingga posisinya persis di atas kepala.

Saat fenomena ini terjadi, bayangan benda-benda di permukaan bumi di sekitar tugu akan menghilang selama beberapa detik, termasuk bayangan tugu itu sendiri, karena sinar matahari jatuh tegak lurus tanpa membentuk bayangan miring.

Fenomena kulminasi ini terjadi dua kali dalam setahun, yaitu sekitar tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September, dan menjadi momen yang banyak dinanti pengunjung maupun peneliti untuk disaksikan langsung.

Tips Berkunjung ke Tugu Khatulistiwa

Jika ingin menyaksikan fenomena kulminasi matahari, pastikan datang pada periode akhir Maret atau akhir September, dan cek jadwal pasti waktunya karena momen ini berlangsung singkat.

Tugu ini berlokasi sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah Kota Mempawah dan Singkawang, sehingga cukup mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Manfaatkan juga kunjungan ini sebagai sarana edukasi, terutama bagi yang membawa anak-anak, karena tugu ini menyimpan banyak nilai pembelajaran seputar astronomi dan garis lintang bumi.

Checklist Sebelum ke Tugu Khatulistiwa

  • Cek jadwal fenomena kulminasi matahari jika ingin menyaksikannya
  • Datang di luar jam terik untuk kenyamanan berkeliling
  • Siapkan pertanyaan seputar astronomi untuk sesi edukasi
  • Bawa kamera untuk mengabadikan momen di garis equator
  • Cek akses jalan menuju kawasan Pontianak Utara sebelum berangkat

Informasi wisata dan berita seputar Pontianak lainnya bisa dibaca di beranda kabarpontianak.com.

Reporter: Mustofa Kamal
Back to top