El Nino Diprediksi Kuat hingga Awal 2027, BMKG Sebut 509 Zona Musim di Kalimantan dan Jawa Telah Masuk Kemarau

Penulis: Oman Sudirman  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 00:23:31 WIB
Petugas memantau kondisi lahan kering di tengah ancaman kekeringan akibat El Nino yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027.

PONTIANAK — BMKG mencatat hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 zona musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan September.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal. Informasi ini sejalan dengan prediksi BMKG yang menyebut intensitas fenomena tersebut berpotensi mencapai kategori kuat.

Kombinasi El Nino dan IOD Positif Memperparah Kekeringan

BMKG memprakirakan Indian Ocean Dipole (IOD) positif akan muncul pada September hingga Desember 2026. Kombinasi dua fenomena iklim ini berpotensi memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia, tidak hanya mengurangi ketersediaan air tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Ancaman kekeringan ekstrem ini berimplikasi langsung pada tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di mana BMKG mencatat telah muncul 4.900 titik panas hingga akhir Juli 2026,” kata Teuku Faisal Fathani.

Kondisi vegetasi yang semakin kering membuat material mudah terbakar, terutama ketika tidak diikuti curah hujan yang memadai. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran terbuka, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi kering dan mudah terbakar.

Durasi Kemarau Lebih Panjang di 437 Zona Musim

Sebanyak 437 zona musim atau sekitar 48,77 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Pada Agustus, musim kemarau diperkirakan mencapai sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia, sementara pada September cakupannya mencapai 25,41 persen.

BMKG mencatat rekor hari tanpa hujan (HTH) terpanjang hingga pertengahan Juli 2026 mencapai 80 hari di Pos Hujan (PHR) Katerban, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kondisi ini menjadi indikator kekeringan meteorologis yang signifikan selama periode musim kemarau 2026.

Ancaman Gagal Panen di Sektor Pertanian

Dampak El Nino juga berpotensi dirasakan sektor pertanian. Kondisi kering berkepanjangan dapat mengganggu fase pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, hingga meningkatkan risiko gagal panen atau puso akibat defisit air.

BMKG mendorong petani melakukan penyesuaian pola tanam dan pengelolaan irigasi secara efisien agar persediaan air dapat dimanfaatkan secara optimal. Informasi mengenai prakiraan hujan dan kondisi musim dapat menjadi dasar dalam menentukan waktu tanam maupun strategi pengelolaan pertanian.

Curah hujan dengan kategori tinggi baru mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026. Artinya, sejumlah wilayah masih harus menghadapi kondisi kering hingga beberapa waktu ke depan, terutama daerah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap curah hujan.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: suarakalbar.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top