PONTIANAK — Hujan yang turun beberapa hari terakhir belum mengusir kabut asap dari Pontianak. Pada Rabu (23/9), asap justru menebal dan memangkas jarak pandang warga kota. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut Presiden memberi perhatian khusus pada Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dalam rapat terbatas tersebut.
Angka 209,78 hektare yang dilaporkan BNPB bukan total luas lahan yang telah terbakar. Operasi modifikasi cuaca tetap dilanjutkan bila kondisi awan memungkinkan. Pusdalops BPBD Kalbar mencatat 2.199 titik panas hingga Selasa (22/9), dengan 77 titik berkepercayaan tinggi terkonsentrasi di Ketapang.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengingatkan bahwa titik panas perlu diperiksa di lapangan sebelum dinyatakan sebagai lokasi kebakaran. Angin dapat membawa asap dari wilayah kebakaran ke daerah lain. Karena itu, hujan di Pontianak belum tentu segera memperbaiki kualitas udara kota.
Pada Rabu pukul 10.00 WIB, indeks kualitas udara Kayong Utara mencapai 984. Pontianak tercatat 352, Sintang 309, dan Mempawah 304. Keempatnya masuk kategori berbahaya. Indeks Kubu Raya mencapai 298 atau sangat tidak sehat.
Kepala Kantor BMKG Klimatologi Kalbar, Bernadus Daniel, mengatakan dua wilayah itu masih berpotensi mengalami curah hujan rendah hingga akhir September. Hari tanpa hujan terpanjang mencapai 84 hari di Kecamatan Teluk Batang, Kayong Utara.
"Wilayah Ketapang dan Kayong Utara masih berpotensi mengalami curah hujan kategori rendah, sehingga perlu diwaspadai kekeringan dan munculnya titik panas," katanya.
Kementerian Kesehatan mencatat 892 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalbar pada Selasa (22/9). Kasus terbanyak dilaporkan di Kubu Raya sebanyak 158, disusul Kayong Utara 126 dan Ketapang 118. Sehari sebelumnya tercatat 1.154 kasus, meski perbandingan angka harian perlu memperhatikan kelengkapan laporan fasilitas kesehatan.
Asap juga mengganggu aktivitas nelayan. Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kalbar, Eka Indah Raharjo, meminta nelayan tidak memaksakan diri melaut ketika jarak pandang membahayakan. Berkurangnya waktu melaut berpotensi menekan pendapatan mereka.
"Bagi nelayan, dampaknya sangat terasa karena aktivitas melaut untuk menangkap ikan ikut terganggu," kata Eka.
Pada Rabu pagi, jarak pandang di Ketapang, Sintang, dan Singkawang tercatat kurang dari satu kilometer. Kondisi itu juga dapat menghambat penerbangan untuk pemadaman. Satuan tugas darat tetap memeriksa titik panas, sedangkan operasi udara menunggu jarak pandang yang aman.
Pemadaman di Ketapang mendapat bantuan helikopter berat CH-47 Chinook dari Jepang. BNPB juga mengerahkan helikopter pengeboman air dan patroli. Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan membakar karena sejumlah wilayah masih kering meski hujan telah turun di daerah lain.