PONTIANAK — Tidur yang cukup seharusnya memulihkan energi setelah seharian beraktivitas. Kenyataannya, banyak orang bangun dengan tubuh masih lelah, pikiran sulit fokus, dan rasa kantuk yang datang sebelum tengah hari. Keluhan semacam ini kerap dianggap wajar, padahal bisa jadi sinyal bahwa kualitas tidur belum optimal.
Durasi bukan satu-satunya ukuran. Tidur yang sering terputus, sulit dimulai, atau tidak mencapai tahapan pemulihan yang dibutuhkan tubuh juga membuat seseorang tetap merasa lelah pada pagi hari. Sleep Foundation merangkum sejumlah tanda yang perlu diperhatikan ketika kondisi itu terjadi berulang.
Tubuh yang masih terasa lelah setelah bangun menjadi tanda paling mudah dikenali. Rasa lelah muncul ketika tidur terganggu atau tidak cukup berkualitas, sehingga tubuh seperti belum benar-benar mendapat waktu memulihkan energi.
Jika rasa lelah terbawa hingga siang dan terjadi berulang kali, pola tidur pada malam hari perlu dievaluasi.
Kantuk berlebihan pada siang hari juga menandakan tubuh belum mendapat istirahat optimal. Sebagian orang bahkan bergantung pada kopi atau minuman berkafein agar tetap terjaga.
Kondisi itu dapat mengganggu pekerjaan atau kegiatan yang menuntut kewaspadaan. Bila kantuk terus muncul meski waktu tidur sudah cukup, pola dan kualitas tidur sebaiknya ditinjau ulang.
Tidur berkualitas bukan hanya soal kapan mulai tidur dan kapan bangun. Seberapa sering tidur terputus juga perlu diperhatikan.
Kesulitan memulai tidur, terbangun berulang kali di tengah malam, atau butuh waktu lama untuk kembali tidur membuat waktu istirahat kurang optimal. Tidur yang terputus berulang mengurangi kesempatan tubuh memperoleh tahapan tidur yang dibutuhkan untuk pemulihan.
Kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas memengaruhi kemampuan mempertahankan perhatian. Pikiran terasa lebih sulit fokus, perhatian mudah teralihkan, dan pekerjaan yang biasanya ringan terasa lebih berat.
Kesulitan berkonsentrasi sering muncul bersamaan dengan rasa lelah dan kantuk pada siang hari.
Kualitas tidur berhubungan dengan kondisi emosional. Tidur yang terganggu membuat seseorang lebih mudah tersinggung, kurang bersemangat, atau lebih sulit menghadapi tekanan sehari-hari.
Hubungan itu bisa berlangsung dua arah. Stres, kecemasan, atau masalah emosional tertentu membuat seseorang semakin sulit tidur atau menyebabkan tidur lebih sering terbangun. Perubahan suasana hati yang muncul bersamaan dengan gangguan tidur patut diperhatikan.
Dampak tidur yang tidak optimal tidak selalu berhenti setelah bangun. Rasa lelah dan kurang bertenaga dapat bertahan sepanjang hari, bahkan aktivitas yang biasanya ringan terasa lebih berat.
Jika kondisi itu terjadi sesekali, penyebabnya bisa berkaitan dengan aktivitas atau kondisi tubuh pada hari sebelumnya. Namun bila tubuh terus terasa kurang bugar meski waktu tidur sudah cukup dan berlangsung berulang, pola tidur perlu dievaluasi.
Kebutuhan tidur setiap orang berbeda. Selain durasi, kualitas dan keteraturan tidur berperan menentukan seberapa pulih tubuh setelah beristirahat.
Rasa lelah, kantuk berlebihan, gangguan konsentrasi, atau tidur yang sering terputus sebaiknya tidak diabaikan jika terus terjadi dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mencari penyebab yang mendasarinya.