Kekeringan dan Kabut Asap Landa Kubu Raya, 10 Bekantan Ditemukan Mati di Hutan Sungai Nibung

Penulis: Mustofa Kamal  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:17:01 WIB
Bekantan ditemukan mati di hutan mangrove Sungai Nibung, Kubu Raya, akibat kekeringan dan kabut asap.

KUBU RAYA — Kekeringan panjang yang melanda Kalimantan Barat sejak Agustus tidak hanya membuat warga kesulitan air bersih, tetapi juga memukul satwa endemik di hutan mangrove Sungai Nibung. Tim patroli Yayasan Planet Indonesia (YPI) mencatat sekitar 10 ekor bekantan ditemukan mati di dalam hutan, sementara lebih dari 10 ekor lutung dan monyet juga ditemukan tewas dalam kondisi tergantung di pohon maupun tergeletak di tanah.

Mustar, warga Dusun Tanjung Ruu, menemukan empat bangkai bekantan di area hutan mangrove saat pulang mencari kerang rawa pada awal September. Tak jauh dari temuan itu, ia melihat satu bekantan masih hidup namun lemas.

"Ada empat ekor. Lalu kami temukan lagi satu (monyet) lain, masih di dalam mangrove. Masih hidup tetapi lemas, sepertinya dia kehausan. Tapi kami tidak membawa air, dan hari sudah malam, jadi kami pulang," kata Mustar.

Bekantan Turun ke Pantai, Sebagian Mati Digigit Anjing

Perilaku tidak biasa bekantan mulai terlihat sejak awal Agustus. Gunawan, warga RT 2 Dusun Tanjung Ruu, menemukan sekitar enam bekantan bergerombol di pohon-pohon belakang rumahnya pada 7 Agustus 2026.

Pada hari yang sama, ia menyaksikan seekor bekantan turun ke pantai dan meminum air laut. Saat sedang minum, primata itu digigit anjing dan mati.

"Monyet (bekantan) itu tidak biasa datang ke kawasan permukiman. Mungkin mereka turun karena haus dan kena asap dari desa sebelah," ujar Gunawan.

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan yang berhabitat di rawa dan hutan mangrove. Spesies ini dilindungi dan masuk daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) dengan status terancam atau endangered.

Hampir Tiga Bulan Tanpa Hujan, Jarak Pandang Hilang

Site manager YPI untuk Kubu Raya, Naomi Siauta, menyebut Sungai Nibung mengalami kekeringan dan krisis air bersih sejak Agustus. Sejumlah keluarga memilih keluar dari desa di tengah gelombang kabut asap dari kebakaran hutan di desa tetangga.

"Yang kami pahami primata bekantan tidak pernah turun sampai ke pantai, lebih banyak di hutan gambutnya. Masyarakat bilang kita manusia sekarang krisis air minum, apalagi satwa," kata Naomi.

Saat tim YPI berkunjung ke Sungai Nibung, jarak pandang sudah sangat pendek akibat asap. "Saat kami berkunjung, jarak pandang itu sudah tidak kelihatan," ujarnya.

YPI menjadi salah satu mitra pengawasan hutan desa Sungai Nibung yang luasnya lebih dari 3.000 hektare, termasuk menjalankan patroli rutin.

"Seperti di wilayah Kalimantan lainnya, hampir tiga bulan di Sungai Nibung tidak turun hujan. Dusun dampingan kami sendiri tidak terkena karhutla secara langsung, tapi dampak asap dari desa-desa tetangga sampai ke sana. Makanya menimbulkan dampak ke primata. Sejauh ini kemungkinan paling besar yang terjadi adalah hewan-hewan itu mengungsi," kata Naomi.

Menurut YPI, bekantan tidak banyak ditemukan di hutan desa. Tim menyimpulkan primata itu mengungsi dari hutan di desa-desa tetangga yang lebih dulu terdampak kebakaran.

3.741 Titik Panas Tercatat di Kalimantan Barat Sepanjang 2026

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat merupakan peristiwa berulang. Tahun 2026 menjadi salah satu yang terburuk, diperparah fenomena El Nino Godzilla.

Analisis Sustainable Innovative Research (SIAR), organisasi berbasis di Pontianak, mengungkap setidaknya 3.741 titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen di Kalimantan Barat selama 1 Januari hingga 31 Agustus 2026. Lebih dari 25.000 titik diidentifikasi berada di konsesi perusahaan, seperti perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan kehutanan.

Sebanyak 7.000 hektare dari luas terbakar di Kalimantan Barat sepanjang 2026 berada di kawasan hidrologis gambut. Sipongi Kementerian Kehutanan juga mencatat Kalimantan Barat sebagai salah satu titik kebakaran terbesar nasional.

Kondisi hutan di sekitar Sungai Nibung ikut meranggas, mulai dari tanah, rerumputan, hingga vegetasi pohon. Rata-rata satwa yang ditemukan mati berada dalam posisi tergantung di pohon atau tergeletak di tanah, sebagian hanya menyisakan kerangka dan tengkorak.

"Jumlahnya bisa lebih banyak lagi, karena ini masih di luar temuan masyarakat," kata Naomi.

Reporter: Mustofa Kamal
Sumber: betahita.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top