Aston Martin Tunda Debut EV Pertama Sampai 2033, Fokus ke Mesin V-8 dan V-12

Penulis: Oman Sudirman  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 12:50:02 WIB
Aston Martin memastikan model listrik pertamanya tidak meluncur sebelum 2033.

KALIMANTAN BARAT — Aston Martin memastikan model listrik pertamanya tidak akan meluncur sebelum 2033, mundur dari target sebelumnya yang sempat disebut 2030. CEO Adrian Hallmark menyebut regulasi yang berubah cepat dan permintaan EV mewah yang rendah sebagai alasan utama penundaan. Merek asal Inggris ini justru akan menggenjot penjualan mesin bensin V-8 dan V-12 hingga setidaknya 2035.

Keputusan tersebut disampaikan Hallmark dalam sebuah acara di London, seperti dilaporkan Autocar. Ini menjadi penundaan kesekian dalam sejarah rencana elektrifikasi Aston Martin, setelah sebelumnya target sempat dipatok untuk 2025, lalu bergeser ke 2027, dan kemudian 2030.

Regulasi Berubah Lebih Cepat dari Kemampuan Pabrikan

Hallmark menilai ketidakpastian aturan emisi di berbagai negara menjadi hambatan utama. Ia menyebut legislasi berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan pabrikan beradaptasi.

"We only need BEVs to be compliant for legislative reasons [in certain markets] just before 2035," ujar Hallmark kepada media. "I'm not going to give an absolute date, because it's imprecise. It could be 2035, it might be 2033, but it's in that three-year window. It's not 2031."

Pernyataan itu menegaskan bahwa Aston Martin tidak melihat urgensi menghadirkan EV dalam waktu dekat. Pasar mobil listrik mewah dinilai belum menunjukkan permintaan yang cukup kuat untuk mendukung investasi besar.

Mesin V-8 dan V-12 Tetap Hidup Hingga 2035

Alih-alih mengejar EV, Aston Martin memilih memperkuat lini mesin pembakaran internal. Hallmark menyatakan pabrikan punya peta jalan untuk menjaga mesin V-8 dan V-12 tetap hidup dan memenuhi regulasi hingga akhir periode 2035.

"We have a road map to keep the bigger and smaller engines [meaning the V-8 and V-12] alive and compliant all the way through to the end of that period," katanya.

Ia juga terbuka pada opsi hibrida untuk beberapa model. Namun Hallmark menolak konsep plug-in hybrid karena bobot tambahan yang dinilai mengganggu karakter berkendara Aston Martin.

Mengandalkan Kemitraan Lucid dan Mercedes-Benz

Ketika akhirnya masuk ke pasar EV, Aston Martin tidak akan membangun semuanya dari nol. Pabrikan sudah menandatangani kerja sama dengan Lucid pada 2023 untuk mengakses teknologi kendaraan listrik.

Selain itu, Aston Martin memiliki kemitraan dengan Mercedes-Benz yang saat ini menjadi pemasok mesin. Kerja sama itu akan dimanfaatkan untuk meningkatkan sistem powertrain dan kelistrikan model-model mendatang.

Strategi ini memungkinkan Aston Martin menunda investasi besar di platform EV sambil tetap menyiapkan fondasi teknologi. Pendekatan serupa juga dilakukan sejumlah merek mewah lain yang menghadapi tekanan regulasi dan permintaan pasar yang tidak sejalan.

Dampak ke Pasar Indonesia

Bagi konsumen Indonesia, penundaan ini tidak mengubah lanskap mobil listrik lokal dalam waktu dekat. Aston Martin bukan pemain volume di pasar nasional, dan model EV-nya nanti kemungkinan akan menyasar segmen ultra-premium.

Yang lebih relevan adalah sinyal bahwa transisi ke listrik di segmen mewah berjalan lebih lambat dari perkiraan. Pabrikan yang sebelumnya menargetkan EV dalam waktu dekat kini menghitung ulang waktu dan biaya.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: caranddriver.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top