Wakil Bupati Sambas Heroaldi Djuhardi Alwi menggandeng inovator asal Kalimantan Barat Amin BenGas untuk menerapkan converter kit berbahan bakar gas bagi petani dan nelayan di daerah itu. Langkah tersebut diambil menyusul keluhan berulang soal kelangkaan solar dan pertalite di wilayah terpencil yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Heroaldi menargetkan efisiensi bahan bakar hingga 60-70 persen agar pendapatan petani dan nelayan meningkat.
SAMBAS — Converter kit buatan Amin BenGas mengubah mesin yang sebelumnya memakai solar dan pertalite agar bisa berjalan dengan gas. Heroaldi menyebut inovasi itu sudah terbukti dan teruji secara nasional, bahkan diakui di mancanegara.
"Sudah terbukti dan teruji secara nasional bahkan sudah diakui dunia internasional, inovasi converter kit Amin BenGas ini diharapkan menjadi salah satu solusi atas persoalan ketersediaan dan tingginya kebutuhan bahan bakar bagi petani dan nelayan di Sambas," kata Heroaldi di Pontianak, Minggu.
Ia menuturkan keluhan soal pengiriman bahan bakar selalu muncul di daerah terpencil dan terluar Indonesia. Kabupaten Sambas, yang berbatasan langsung dengan Malaysia, mengalami kondisi serupa.
Menurut Heroaldi, antrean kendaraan di sejumlah daerah, termasuk di Sambas, menunjukkan persoalan distribusi bahan bakar belum selesai. Pemerintah dinilai perlu mendorong inovasi yang membuat penggunaan anggaran dan biaya operasional masyarakat lebih efisien.
Amin BenGas disebut sebagai putra Kalimantan Barat yang telah menerima sejumlah penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Heroaldi berharap temuannya bisa diterapkan untuk mendukung sektor pertanian dan perikanan yang menjadi penopang ekonomi warga Sambas.
"Converter kit ini harus hadir di Kabupaten Sambas, sehingga saya akan mengundang pak Amin ke Sambas untuk berbagi manfaat atas temuannya bagi masyarakat. Saya juga sudah meminta Pak Haji Amin ikut berinovasi bagaimana memikirkan program pemerintah yang ada di Kabupaten Sambas, khususnya untuk mendukung program ketahanan pangan yang di gagas pemerintah pusat," ujarnya.
Sekitar 70 persen penduduk Sambas bekerja sebagai petani. Kabupaten itu termasuk penghasil padi terbesar di Kalimantan Barat dan dikenal sebagai lumbung pangan provinsi.
Data yang disampaikan Heroaldi menunjukkan kebutuhan beras Sambas pada Januari-September mencapai sekitar 44.935 ton. Produksi beras pada periode yang sama disebut sekitar 105 ribu hingga 115 ribu ton, sehingga terdapat surplus sekitar 66.612 ton.
Surplus itu masih bisa ditingkatkan bila efisiensi proses produksi pertanian terus diperkuat, termasuk lewat penggunaan bahan bakar yang lebih hemat.
Heroaldi menyebut efisiensi penggunaan bahan bakar melalui converter kit Amin BenGas bisa mencapai sekitar 60-70 persen. "Dua belas liter itu bisa diganti cukup dengan tiga kilogram gas. Ini luar biasa," katanya.
Selaku Ketua HNSI Kabupaten Sambas, ia berharap efisiensi tersebut memperkuat semangat petani dan nelayan meningkatkan produksi. Pemerintah juga bisa memperluas manfaat program dengan anggaran yang lebih efisien serta ramah lingkungan.
"Mudah-mudahan apa yang menjadi keluhan dan perhatian untuk Sambas bisa sedikit teratasi. Dengan adanya program ini, converter kit mempermudah ruang gerak para petani dan nelayan dan menambah surplus lagi ke depan," tuturnya.