KALIMANTAN BARAT — Kemampuan berguling, merayap, hingga merangkak adalah fondasi tumbuh kembang anak yang sering luput dari perhatian. Arif Budhi Santoso, pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, menjelaskan bahwa aktivitas fisik punya kaitan erat dengan milestone perkembangan. Simak penjelasan lengkapnya agar ibu tidak melewatkan tanda-tanda yang perlu diwaspadai.
Setiap tahap gerak bayi bukan sekadar pencapaian fisik biasa. Kemampuan menggerakkan tangan dan kaki, berguling, merayap, sampai merangkak menjadi dasar bagi perkembangan koordinasi, keseimbangan, hingga kemandirian anak di kemudian hari. Ketika tahapan ini terlewat atau terlambat, dampaknya bisa berlanjut ke aspek tumbuh kembang lainnya.
Arif Budhi Santoso menegaskan bahwa aktivitas fisik merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pencapaian milestone anak. Perkembangan motorik kasar umumnya dimulai dari gerakan sederhana seperti menggerakkan tangan dan kaki, lalu berlanjut ke berguling, merayap, dan merangkak.
Jika proses gerak pada bayi mengalami gangguan atau keterlambatan, kondisi itu bisa memicu atau memperberat gangguan tumbuh kembang di kemudian hari. Contoh paling umum adalah keterlambatan berjalan yang sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi sinyal adanya masalah yang lebih serius.
Arif menjelaskan bahwa kurangnya aktivitas fisik tidak hanya berdampak pada anak dengan kondisi khusus. Anak dengan perkembangan tipikal normal pun bisa terpengaruh jika aktivitas fisiknya minim.
Dampak yang muncul antara lain anak menjadi malas, kurang berinisiatif, dan kurang mandiri. Ini menunjukkan bahwa stimulasi gerak berperan besar dalam membentuk karakter dan kemandirian anak, bukan hanya kemampuan motoriknya.
Hubungan antara aktivitas fisik dan tumbuh kembang berjalan dua arah. Gangguan tumbuh kembang tertentu yang ada sejak lahir juga dapat memengaruhi kemampuan anak melakukan aktivitas fisik.
Arif mencontohkan anak dengan Cerebral Palsy (CP) yang sejak awal mengalami gangguan gerak. Kondisi ini turut berpengaruh terhadap aktivitas dan kemampuan perkembangan lainnya, termasuk kemampuan berbicara. Artinya, gangguan gerak tidak berdiri sendiri, tetapi bisa berdampak pada banyak aspek perkembangan anak.
Beberapa tanda berikut sebaiknya tidak diabaikan begitu saja. Jika bayi mengalami keterlambatan dalam berguling, merayap, merangkak, atau berjalan dibandingkan anak seusianya, ada baiknya ibu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Semakin dini tanda-tanda ini dikenali, semakin cepat pula intervensi yang bisa diberikan. Jangan menunggu sampai anak jauh tertinggal dari teman seusianya.
Stimulasi gerak bisa dilakukan dengan cara sederhana di rumah. Biarkan bayi tengkurap dalam pengawasan untuk melatih otot leher dan punggung, ajak bermain bola, atau sediakan waktu khusus untuk bergerak bebas tanpa gadget.
Untuk anak yang lebih besar, aktivitas seperti berlari, melompat, dan bermain di luar ruangan membantu melatih koordinasi dan keseimbangan. Yang terpenting, konsisten dan sesuaikan dengan usia serta kemampuan anak.
Mendukung aktivitas fisik anak adalah investasi jangka panjang untuk tumbuh kembangnya. Mulai dari langkah kecil di rumah, ibu bisa membantu anak mencapai milestone-nya dengan lebih optimal.