BEI Baru Catat 7 IPO per Oktober 2026, Jauh dari Target 50 Emiten

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 12:51:01 WIB
Bursa Efek Indonesia mencatat tujuh emiten IPO hingga awal Oktober 2026 dengan dana dihimpun Rp 2,16 triliun.

KALIMANTAN BARAT — Bursa Efek Indonesia baru mencatat tujuh perusahaan yang melantai sepanjang 2026 hingga awal Oktober, dengan dana dihimpun Rp 2,16 triliun. Capaian itu meninggalkan target sekitar 50 emiten baru yang dipatok bursa untuk tahun ini, saat sisa waktu kurang dari tiga bulan.

Berdasarkan laporan BEI yang dikutip Senin (5/10), tujuh emiten yang sudah mencatatkan sahamnya adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).

Dari sisi sebaran sektor, dua perusahaan berasal dari energi, empat dari kesehatan, dan satu dari industri. Komposisi itu menunjukkan minat emiten dari sektor non-keuangan masih mendominasi pipeline tahun ini.

Antrean Calon Emiten Tersisa Tujuh Perusahaan

Hingga pipeline per 2 Oktober 2026, BEI mencatat masih ada tujuh calon emiten yang mengantre melantai di bursa. Angka itu nyaris sama dengan jumlah emiten yang sudah tercatat sepanjang tahun, sehingga laju penambahan emiten baru berpotensi tetap tipis hingga Desember.

Berdasarkan klasifikasi aset sesuai POJK Nomor 53/POJK.04/2017, dua perusahaan dalam pipeline tergolong skala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar. Tiga perusahaan masuk kategori menengah dengan aset Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar, sedangkan dua sisanya berskala kecil dengan aset di bawah Rp 50 miliar.

OJK Sebut Lima Perusahaan Siap Emisi di Atas Rp 2 Triliun

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan masih ada lima perusahaan dalam antrean IPO dengan total nilai emisi mencapai Rp 2,02 triliun.

"Lima perusahaan perkiraan emisinya di atas Rp 2 triliun," ucap Hasan kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (2/10).

Hasan menambahkan, penghimpunan dana di pasar modal sepanjang tahun ini sudah mencapai Rp 169,5 triliun. Pipeline penawaran umum untuk seluruh instrumen pasar modal masih tercatat Rp 27,61 triliun.

OJK memperkirakan ada tambahan penghimpunan sekitar Rp 24 triliun hingga akhir 2026. Potensi itu terutama berasal dari penerbitan efek bersifat utang dan sukuk yang akan jatuh tempo dan berpeluang melakukan refinancing.

"Berarti masih ada peluang kami untuk bisa berharap mencapai angka target yang dicanangkan Rp 250 triliun," kata Hasan.

Target 50 Emiten dan Ambisi 10 Besar Bursa Dunia

BEI sebelumnya menargetkan 555 pencatatan efek sepanjang 2026, termasuk 50 emiten baru lewat IPO. Mantan Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyebut bursa telah menyiapkan arah pengembangan teknologi untuk lima tahun ke depan demi menjaga momentum pertumbuhan pasar modal.

Selain itu, BEI membidik penambahan 2 juta investor baru tahun ini setelah menembus 20 juta investor pada tahun lalu. Target tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi makroekonomi nasional dan global.

Bursa juga memasang target masuk jajaran 10 besar bursa dunia dari sisi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi pada 2030. Ambisi itu diyakini memberi manfaat bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional.

Apa Artinya bagi Investor dan Calon Emiten

Kesenjangan antara realisasi tujuh emiten dan target 50 IPO menjadi sinyal bahwa pelaku usaha masih menahan diri untuk mencari dana di pasar modal. Bagi investor, pasokan saham baru yang terbatas berarti pilihan instrumen ekuitas tetap ramping hingga akhir tahun.

Di sisi lain, pipeline tujuh calon emiten dan lima perusahaan yang disebut OJK menjadi katalis yang perlu dicermati. Jika sebagian besar dari mereka benar melantai sebelum tutup tahun, bursa masih punya ruang mengejar sebagian target penghimpunan dana.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top