KALIMANTAN BARAT — Mantan gelandang Timnas Jerman Thomas Hitzlsperger menilai sepak bola telah mencatat kemajuan nyata dalam memerangi homofobia, meski ia menegaskan akar persoalannya tetap ada di masyarakat luas. Hitzlsperger, yang mengumumkan dirinya gay pada 2014 setelah pensiun, menyoroti minimnya pesepak bola pria yang berani terbuka semasa karier aktifnya.
Hitzlsperger berbicara panjang soal kondisi homofobia di sepak bola kontemporer. Ia menyebut tekanan sosial yang lebih luas menjadi penghalang utama, bukan sekadar budaya di ruang ganti. "Dalam hal homofobia, masyarakat adalah tantangan terbesar. Dunia menjadi tempat yang lebih keras dan, terkait diskriminasi, itu cukup menyedihkan," ujarnya.
Ia menempatkan homofobia sejajar dengan rasisme sebagai persoalan yang tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial. Menurutnya, sepak bola punya tanggung jawab berbicara karena pengaruhnya besar. "Kadang orang bertanya, kenapa kami tidak sekadar menonton sepak bola? Saya paham, tapi kami punya tanggung jawab untuk bersuara soal isu sosial, karena permainan ini sangat berpengaruh," kata Hitzlsperger.
Hitzlsperger menolak anggapan bahwa tidak ada perkembangan sama sekali. Ia merujuk momen di pertengahan musim 2024-25 Liga Primer, ketika 19 dari 20 kapten klub mengenakan ban lengan pelangi. "Menurut saya kita sudah jauh melangkah dengan melihat begitu banyak pemain top Liga Primer memakai ban lengan itu. Itu luar biasa dan seharusnya kita bicarakan," tuturnya.
Ia juga menyoroti sifat sepak bola yang berorientasi uang. Sejumlah inisiatif yang dibangun bertahun-tahun, katanya, kini dikurangi karena isu kesetaraan, keberagaman, dan inklusi dianggap sudah berlebihan oleh sebagian pihak. "Namun kita juga harus mengakui bahwa permainan ini murni soal uang. Ada sejumlah inisiatif yang dibangun bertahun-tahun lalu kemudian dikurangi, dan kesetaraan, keberagaman, serta inklusi tidak lagi begitu populer karena berbagai orang menganggapnya sudah terlalu banyak," ujarnya.
Hitzlsperger menyebut realitas pahit soal jumlah pesepak bola pria yang terbuka sebagai gay. Ia menyebut maskulinitas toksik sebagai akarnya, tapi menegaskan persoalan tidak berhenti di ruang ganti. "Kenyataannya sangat sedikit pesepak bola pria yang terbuka sebagai gay. Itu berakar pada maskulinitas toksik, tapi hidup ini memang toksik dan itu hal yang menyedihkan," katanya.
Ia menambahkan, sebagian pemain tetap tidak terbuka bahkan setelah karier bermainnya berakhir. "Kita bicara soal pemain yang tidak ingin terbuka selama masa bermain karena lingkungannya mungkin toksik, tapi setelah karier bermain selesai, sebagian pemain juga tidak terbuka karena mereka takut pada masyarakat," ujarnya.
Hitzlsperger mendorong media dan publik mengalihkan perhatian pada kisah positif. Ia mengaku mengenal banyak orang di sepak bola yang serius menangani isu homofobia dan terus berupaya menciptakan lingkungan lebih inklusif. "Saya ingin kita fokus menceritakan lebih banyak kisah positif, bukan terus terobsesi pada segelintir orang yang menolak keberagaman," tuturnya.
Saat ini Hitzlsperger bekerja sebagai komentator dan pengamat sepak bola. Ia menegaskan bahwa sepak bola tetap punya peluang besar merangkul orang dari segala latar belakang, meski perjuangan melawan homofobia tidak akan selesai hanya di dalam lapangan.