KALIMANTAN BARAT — Pengiriman smartphone global tercatat 255,3 juta unit pada kuartal ketiga 2026, turun 22% dibanding periode yang sama tahun lalu dan menjadi penurunan terbesar yang pernah dicatat IDC. Krisis memori yang dipicu ledakan kebutuhan AI disebut sebagai biang keroknya, dengan harga komponen naik sekitar 350% sejak tahun lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Data terbaru dari International Data Corporation (IDC) menunjukkan tekanan besar sedang melanda pasar smartphone dunia. Dibandingkan kuartal ketiga 2025 yang masih mencatat 327,3 juta unit, angka pengiriman kuartal ketiga 2026 merosot ke 255,3 juta unit. Nabila Popal, senior research director for Worldwide Devices di IDC, memperingatkan bahwa kondisi ini belum mencapai titik terburuk.
IDC menyoroti lonjakan biaya komponen memori sebagai akar masalah. Kebutuhan chip untuk beban kerja AI membuat pasokan RAM semakin ketat dan mahal. Popal menyebut biaya memori telah meroket sekitar 350% sejak tahun lalu dan masih terus naik.
"Current indicators suggest that the market has not yet reached the bottom. Memory costs have surged approximately 350% since last year and are still rising, creating substantial pressure on vendor margins and shipments," ujarnya.
Tekanan ini memukul margin vendor di seluruh dunia. Sebagian produsen terpaksa menaikkan harga jual, sementara sebagian lain harus memangkas target produksi agar tidak menumpuk stok.
Peta pangsa pasar kuartalan memperlihatkan pola yang timpang. Samsung dan Apple hanya mengalami penurunan moderat, sementara merek asal Tiongkok justru terpukul paling dalam.
Menariknya, pangsa pasar Samsung dan Apple justru naik dibanding kuartal yang sama tahun lalu. Samsung dari 20,9% ke 22,6%, Apple dari 23,1% ke 22,4% — meski keduanya tetap kehilangan volume pengiriman.
Francisco Jeronimo, vice president for Worldwide Devices di IDC, menilai dampak krisis memori kini mulai dirasakan langsung oleh pembeli.
"Unfortunately, it's consumers who will start to feel the pinch going forward. The third quarter shows the full impact and damage of the memory crisis," kata Jeronimo. "The pressure is now moving from vendors to consumers. As a result, smartphone owners are deciding not to upgrade as often, and the situation isn't helped by the fact that most the upgrades being offered right now are iterative."
Konsumen memilih menahan diri karena harga naik sementara peningkatan antargenerasi dinilai tidak signifikan. Dampaknya, siklus ganti ponsel makin panjang.
Gejala kenaikan harga sudah terlihat pada beberapa peluncuran terbaru. iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max dilaporkan mengalami kenaikan harga USD 100, sementara Samsung juga menaikkan harga jual lini Galaxy S26. Di pasar Indonesia, dampak kenaikan komponen ini berpotensi ikut mendorong harga jual perangkat anyar, terutama model kelas menengah yang paling sensitif terhadap biaya memori.
Jeronimo mencatat ada risiko tambahan yang perlu dicermati industri. Sejumlah vendor justru menaikkan rencana produksi untuk mengantisipasi pengetatan pasokan komponen tahun depan.
"Despite the sluggish sales, some vendors raised production plans ahead of an expected tightening in component supply next year. If demand remains weak, this could lead to inventory build-up heading into 2027, adding a further downside risk to our 2027 forecast," ujarnya.
Artinya, kalau permintaan tetap lemah, stok bisa menumpuk dan memukul proyeksi kinerja tahun depan.
IDC memperkirakan pasar baru bisa menunjukkan pemulihan paling cepat pada 2028. Sampai saat itu, harga perangkat yang memakai memori diproyeksikan tetap tinggi dan pilihan upgrade konsumen akan makin selektif. Bagi Anda yang tengah mempertimbangkan ganti ponsel, momen diskon atau promo menjadi opsi paling masuk akal selama situasi ini belum stabil.