Ketua Komisi V DPR RI Lasarus Tinjau Infrastruktur Kubu Raya, Pasar Induk Melati Disiapkan Anggaran Rp 50 Miliar

Penulis: Mustofa Kamal  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:16:01 WIB
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus meninjau proyek infrastruktur di Kubu Raya.

KUBU RAYA — Kunjungan Ketua Komisi V DPR RI Lasarus ke Kubu Raya memfokuskan perhatian pada proyek infrastruktur yang menyentuh langsung kepentingan warga. Komisi V DPR RI membidangi urusan infrastruktur, perhubungan, dan pembangunan daerah, sehingga peninjauan lapangan menjadi bagian dari fungsi pengawasan anggaran pusat yang dialirkan ke daerah.

Dalam kunjungan tersebut, Pasar Induk Melati muncul sebagai salah satu proyek yang disorot dengan alokasi anggaran mencapai Rp 50 miliar. Angka itu menjadikannya salah satu pos pembangunan terbesar yang dibahas dalam pertemuan di Kubu Raya.

Mengapa Pasar Induk Melati Jadi Prioritas

Pasar induk berperan sebagai simpul distribusi bahan pokok yang menentukan stabilitas harga di tingkat kabupaten. Kubu Raya, yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak, selama ini bergantung pada pasar-pasar tradisional yang kapasitasnya terbatas dalam menampung pasokan dari petani dan pedagang pengumpul.

Pembangunan pasar induk disebut ditujukan bagi kepentingan masyarakat luas, bukan hanya pedagang. Dengan fasilitas yang memadai, rantai distribusi barang bisa lebih pendek dan harga di tingkat konsumen berpotensi lebih terkendali.

Proyek Lain yang Masuk Peninjauan

Selain Pasar Induk Melati, Lasarus meninjau sejumlah proyek infrastruktur lain di wilayah Kubu Raya. Peninjauan mencakup proyek yang sedang berjalan maupun rencana pembangunan yang belum dieksekusi.

Kunjungan kerja anggota DPR ke daerah konstituennya berfungsi ganda: menyerap aspirasi warga sekaligus memastikan proyek yang didanai APBN benar-benar sesuai kebutuhan lapangan. Komisi V secara rutin melakukan peninjauan serupa di berbagai provinsi.

Arti Kunjungan bagi Warga Kubu Raya

Bagi warga Kubu Raya, perhatian legislator pusat terhadap infrastruktur daerah membuka peluang percepatan realisasi proyek. Namun tahapan selanjutnya tetap bergantung pada proses perencanaan di kementerian teknis dan ketersediaan anggaran dalam APBN.

Pasar induk yang modern juga berimplikasi pada pendapatan asli daerah melalui retribusi pasar. Pemerintah kabupaten perlu menyiapkan pengelolaan yang transparan agar manfaat ekonominya sampai ke pedagang kecil, bukan hanya pengelola besar.

Belum ada keterangan resmi mengenai jadwal lelang atau target groundbreaking Pasar Induk Melati. Rincian teknis proyek senilai Rp 50 miliar itu masih menunggu pembahasan lanjutan antara pemerintah daerah dan kementerian terkait.

Reporter: Mustofa Kamal
Sumber: suaranusantara.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top