PONTIANAK — Badan Pusat Statistik memaparkan tekanan karhutla terhadap perekonomian daerah dalam konferensi pers rilis BPS di Jakarta. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menyebut dampak kebakaran tidak berhenti pada persoalan lingkungan dan kesehatan.
“Karhutla juga berdampak pada menurunnya beberapa aktivitas ekonomi, khususnya pada provinsi yang terdampak,” kata Edy dalam konferensi pers tersebut.
Kinerja subsektor kehutanan Kalimantan Barat berbalik arah pada triwulan III-2026. Setelah mencatat pertumbuhan 6,02 persen pada triwulan sebelumnya, subsektor ini mengalami kontraksi 2,52 persen.
Perubahan dari pertumbuhan positif menjadi kontraksi menunjukkan adanya tekanan terhadap aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan kehutanan. Dampaknya turut memengaruhi performa pertumbuhan regional di sejumlah wilayah yang mengalami karhutla.
Angka tersebut menjadi salah satu gambaran dampak karhutla terhadap aktivitas ekonomi, terutama di daerah yang terdampak kebakaran.
BPS mencatat kawasan Kalimantan tumbuh 3,96 persen secara tahunan pada triwulan III-2026. Angka itu melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,68 persen.
Edy menjelaskan sektor pertanian merupakan salah satu sumber pertumbuhan utama perekonomian Kalimantan. Sektor ini juga mencakup subsektor kehutanan yang kinerjanya terdampak karhutla.
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat yang berhadapan langsung dengan bencana. Tekanan juga tercermin dalam kinerja beberapa sektor ekonomi di provinsi terdampak.
Di Kalimantan Barat, perlambatan berlangsung dua kuartal berturut-turut. Pertumbuhan turun dari 6,14 persen pada triwulan I-2026 menjadi 5,24 persen pada triwulan III-2026.
Penurunan kinerja subsektor kehutanan pada triwulan III-2026 dinilai cukup tajam. Padahal pada triwulan sebelumnya subsektor tersebut masih mencatatkan pertumbuhan 6,02 persen.