KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan data yang dihimpun dari laman resmi masing-masing bank, seluruh emiten perbankan pelat merah tersebut memangkas harga jual dolar AS dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Penurunan berkisar antara Rp 25 hingga Rp 50 per dolar AS, tergantung kebijakan masing-masing bank.
Berikut rincian harga jual (sell) dan harga beli (buy) dolar AS yang berlaku di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI pada hari ini:
Selisih antara harga jual dan beli (spread) di masing-masing bank masih terjaga di kisaran Rp 150–200. Spread ini merupakan keuntungan yang diperoleh bank dari transaksi valuta asing.
Penguatan rupiah pada awal pekan ini tidak lepas dari sentimen global dan domestik. Dari eksternal, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis di tengah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya lebih lama.
Sementara dari dalam negeri, aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih deras. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat investor asing membukukan net buy di pasar SBN hingga Rp 4,7 triliun pada pekan lalu. Ini menjadi katalis positif bagi nilai tukar rupiah.
Bagi importir yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS, pelemahan greenback ini menjadi kabar baik. Biaya pengadaan barang dari luar negeri menjadi lebih murah jika dihitung dalam rupiah. Sebaliknya, eksportir yang menyimpan pendapatan dalam dolar AS akan menerima lebih sedikit rupiah saat melakukan konversi.
Investor di pasar saham juga patut mencermati tren ini. Penguatan rupiah kerap menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten yang memiliki utang dalam dolar AS atau yang mengimpor bahan baku, seperti sektor konsumer dan manufaktur. Namun, sektor komoditas tambang yang pendapatannya dalam dolar AS bisa mengalami tekanan laba akuntansi.
Disclaimer: Fluktuasi nilai tukar bersifat dinamis. Harga yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar.