PONTIANAK — Angka penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Barat terus bertambah. Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari satu juta warga di berbagai kabupaten dan kota di provinsi itu.
Capaian itu mendekati target yang ditetapkan pemerintah pusat. Program MBG sendiri dirancang untuk memperbaiki asupan gizi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan anak sekolah.
Penerima manfaat program MBG di Kalbar tersebar di sejumlah daerah. Data menunjukkan bahwa ibu hamil dan balita menjadi sasaran utama, selain anak-anak usia sekolah dasar.
Di Kota Pontianak, misalnya, program ini sudah berjalan di puluhan kelurahan. Warga mengaku terbantu dengan adanya tambahan asupan gizi setiap minggunya.
Bagi keluarga penerima, program ini membantu meringankan beban pengeluaran harian. Salah satunya adalah Rina, warga Kecamatan Pontianak Kota, yang mengaku anaknya kini lebih lahap makan setelah rutin menerima paket MBG.
“Dulu anak saya susah makan sayur. Sekarang, karena menu di MBG bervariasi, dia jadi mulai suka,” ujarnya saat ditemui di posyandu setempat.
Selain itu, kader posyandu melaporkan adanya peningkatan berat badan pada balita yang rutin mengikuti program ini. Hal itu menjadi indikator awal perbaikan status gizi di tingkat komunitas.
Distribusi paket MBG dilakukan melalui posyandu dan sekolah. Setiap penerima mendapatkan paket makanan bergizi yang disusun oleh ahli gizi setempat.
Pemerintah daerah juga melibatkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam penyediaan bahan baku. Langkah ini sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Kami bekerja sama dengan petani dan pedagang lokal untuk memastikan bahan pangan segar dan terjangkau,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kalbar dalam keterangan tertulis.
Dengan capaian satu juta penerima, Kalbar optimistis dapat memenuhi target nasional. Pemerintah pusat menargetkan program ini menjangkau seluruh provinsi prioritas dalam dua tahun ke depan.
Namun, tantangan masih ada. Distribusi ke daerah terpencil, seperti perbatasan dan pulau terluar, membutuhkan koordinasi logistik yang lebih intensif.
Pemprov Kalbar berencana menambah jumlah titik distribusi pada tahun depan. Langkah ini diharapkan mempercepat pemerataan akses gizi bagi seluruh warga.
Respons warga cenderung positif. Banyak yang mengaku program ini membantu memenuhi kebutuhan gizi harian yang sebelumnya sulit dijangkau karena harga pangan yang tinggi.
“Kami berharap program ini terus berlanjut. Sangat membantu kami di kampung,” kata Siti, warga Kecamatan Sanggau.
Pemerintah daerah pun berkomitmen menjaga kualitas menu dan ketepatan sasaran. Evaluasi berkala dilakukan bersama kader posyandu dan pihak sekolah.
Pemprov Kalbar akan memperluas cakupan program ke kecamatan yang belum tersentuh. Selain itu, mereka juga akan memperkuat sistem pemantauan gizi berbasis data.
Dengan capaian satu juta penerima, Kalbar menjadi salah satu provinsi dengan realisasi MBG tercepat di Indonesia. Hal ini menjadi modal penting untuk mencapai target nasional yang lebih ambisius.