KALIMANTAN BARAT — Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno mengungkapkan, kajian pemanfaatan area pinggir jalan tol tengah dijalankan. Proyek ini merupakan langkah awal dari ambisi besar pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt (GW) yang dicanangkan pemerintah.
"Di-exercise tahun ini. Nah, tahun depan di eksekusi," ujar Tri kepada awak media, Sabtu (8/8). Pernyataan ini menegaskan bahwa tahun 2025 digunakan untuk mematangkan desain dan studi kelayakan, sementara konstruksi baru berjalan dua tahun berselang.
Untuk tahap awal, pengembangan difokuskan di dua ruas tol strategis. Kawasan Jalan Tol Bali Mandara menjadi proyek percontohan, dengan panel surya direncanakan terpasang di area bahu jalan. Lokasi kedua adalah Jalan Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo yang menghubungkan Jakarta dengan Bandara Soekarno-Hatta.
"Itu pinggir-pinggirnya nanti dipasang. Terus nanti ada rencana juga di (tol) Sedyatmo yang mau ke Soetta," tandas Tri.
Pemerintah tidak serta-merta langsung membangun infrastruktur di koridor padat lalu lintas. Tri menjelaskan, pemanfaatan jalur tol merupakan opsi strategis untuk mendukung konsep kawasan hijau, namun butuh perhitungan teknis yang presisi.
"Kalau sepanjang tol Jawa itu ada, kira-kira dapat berapa sih. Biar kita green," katanya. Kalimat ini merujuk pada instruksi pimpinan untuk menghitung potensi kapasitas listrik yang bisa dihasilkan jika seluruh ruas tol di Pulau Jawa dipasangi modul surya. Angka tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan skema investasi dan integrasi ke jaringan listrik nasional.
Rencana ini menjadi sinyal positif bagi percepatan transisi energi, mengingat porsi energi surya dalam bauran nasional masih minim. Dengan memanfaatkan aset jalan tol yang membentang ratusan kilometer, pemerintah berupaya menambah kapasitas tanpa harus melakukan pembebasan lahan besar-besaran.
Namun, tantangan teknis tetap mengemuka. Panel surya di pinggir jalan tol berisiko mengalami penurunan efisiensi akibat debu dan getaran kendaraan berat. Selain itu, skema pendanaan dan kerja sama dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menjadi variabel yang belum diumumkan secara rinci.
Kajian yang tengah berjalan diharapkan mampu menjawab dua hal utama: kepastian kapasitas terpasang dan mekanisme operasional jangka panjang. Jika berhasil, proyek ini tidak hanya menambah pasokan listrik hijau, tetapi juga menjadi model pemanfaatan ruang terbatas di kawasan urban dan semi-urban.