PONTIANAK — Pergeseran peran vendor PLTS dari sekadar penyedia panel surya menjadi mitra ESG kini mulai terasa di Kalimantan Barat. Banyak perusahaan di daerah ini masih kesulitan menerjemahkan komitmen keberlanjutan menjadi inisiatif yang terukur dan bisa dilaporkan ke pemangku kepentingan.
PLTS selama ini hanya dipandang sebagai alat penghemat biaya listrik. Padahal, setiap kilowatt-hour (kWh) yang dihasilkan dari atap pabrik atau gedung perkantoran bisa menggantikan konsumsi listrik dari jaringan PLN dan secara langsung menurunkan emisi Scope 2 sesuai standar GHG Protocol.
Mengapa Data Produksi PLTS Krusial untuk Laporan Keberlanjutan?
Vendor yang mumpuni tidak hanya menjamin panel surya berfungsi optimal. Mereka juga harus mampu menyediakan sistem monitoring yang mencatat data produksi energi secara real-time, estimasi pengurangan emisi karbon, serta laporan performa sistem yang siap diaudit.
Data tersebut menjadi bukti konkret bagi perusahaan saat menyusun laporan keberlanjutan tahunan. Investor institusional dan pembeli dari Eropa, misalnya, kini kerap meminta informasi emisi rantai pasok sebagai syarat memenuhi regulasi CSRD dan CBAM.
“Vendor yang menyediakan sistem monitoring dan dokumentasi yang memadai akan membantu perusahaan mengumpulkan data produksi energi dan menghitung pengurangan emisi Scope 2 sesuai metodologi GHG Protocol,” demikian penjelasan dalam artikel Suara Kalbar.
Tiga Scope Emisi: Di Mana PLTS Bekerja Paling Efektif?
Dalam kerangka GHG Protocol, emisi perusahaan dibagi tiga scope. PLTS memberikan kontribusi paling nyata pada Scope 2, yaitu emisi tidak langsung dari pemakaian listrik PLN yang dibeli untuk operasional kantor, pabrik, pusat data, hingga sistem pencahayaan dan pendingin ruangan.
Setiap kWh listrik surya yang terpakai berpotensi menggantikan listrik jaringan. Besaran pengurangannya dihitung menggunakan faktor emisi yang diterbitkan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan.
Sementara itu, pada Scope 1 yang mencakup emisi langsung dari genset atau boiler, PLTS bisa membantu di lokasi terpencil seperti area pertambangan atau fasilitas industri yang masih mengandalkan bahan bakar diesel. Untuk Scope 3 yang mencakup seluruh rantai nilai, kontribusi PLTS bersifat tidak langsung namun tetap relevan karena membantu perusahaan menyediakan data emisi yang lebih baik kepada pelanggan.
Memilih Vendor PLTS: Keputusan Teknis atau Strategis?
Pemilihan vendor PLTS kini bukan lagi sekadar keputusan teknis. Perusahaan di Kalimantan Barat perlu memastikan mitra yang dipilih mampu mendokumentasikan kontribusi energi terbarukan secara terukur dan mudah ditelusuri.
Vendor yang menyediakan data produksi energi, estimasi pengurangan emisi, serta laporan performa sistem akan memberikan nilai tambah yang melampaui proses instalasi. Data tersebut kemudian bisa digunakan untuk kebutuhan verifikasi auditor, investor, atau mitra bisnis yang makin peduli pada kinerja ESG.