KALIMANTAN BARAT — Potensi ekonomi dari hilirisasi batu bara menjadi DME bukan sekadar wacana. Ketua HIPMI Jaya, M. Riandy Haroen, menyebut angka tersebut baru dari satu komoditas saja. Jika direalisasikan, pengolahan ini bisa menekan impor LPG yang selama ini membebani neraca dagang.
"Potensi mencapai Rp9,6 triliun per tahun baru dari satu komoditi, yaitu hilirisasi batu bara ke DME. Dalam rangka menurunkan angka impor kita juga terhadap LPG," ujar Riandy dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).
Riandy menekankan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada mengubah batu bara menjadi produk bernilai tambah. Proses industrialisasi ini dinilai akan memicu efek berantai pada perekonomian.
"Dari industrialisasi tersebut tentunya peluang-peluang ekosistem, membuka peluang-peluang ekonomi baru dan juga kebermanfaatan bagi kita semua," katanya.
Ia menilai pengusaha muda Indonesia punya potensi besar untuk mengambil peran di sektor ini. Namun, potensi itu harus dipertemukan lewat jaringan dan kolaborasi lintas industri.
"Pengusaha muda Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Tantangan berikutnya adalah bagaimana potensi tersebut dipertemukan dalam sebuah ekosistem yang memungkinkan terciptanya sinergi lintas industri," ujarnya.
MINERS 2026 digelar sebagai salah satu jawaban atas tantangan tersebut. Acara ini dirancang menjadi ruang dialog dan jejaring antara pengusaha, pelaku industri, serta pemangku kepentingan di sektor energi dan mineral.
"MINERS 2026 menjadi contoh bagaimana networking dapat berkembang menjadi kolaborasi bisnis yang memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang yang lebih luas bagi dunia usaha," tambah Riandy.
Ketua Panitia Mining Nation Revolution, Rhesa Avilia Zaenal, menambahkan bahwa program hilirisasi pemerintah merupakan langkah strategis. Menurutnya, hilirisasi berperan penting dalam memperkuat ketahanan industri sekaligus menciptakan lapangan usaha berkelanjutan.
"Program hilirisasi yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional, memperkuat ketahanan industri, serta menciptakan lapangan usaha yang berkelanjutan," ujar Rhesa.
Rhesa menjelaskan, hilirisasi batu bara menjadi bagian penting dalam agenda tersebut. Pengembangan industri turunannya tidak hanya mengoptimalkan komoditas energi, tetapi juga membuka ruang bagi industri bernilai tambah.
"Mulai dari energi alternatif, bahan baku kimia, hingga manufaktur lanjutan," jelasnya.
Menurut Rhesa, pengembangan industri turunan ini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi pengusaha muda. Kolaborasi menjadi kunci agar sumber daya alam bisa diolah menjadi kekuatan industri nasional.
Lewat MINERS 2026, HIPMI Jaya berharap terbentuk sinergi nyata yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang bisnis baru di sektor energi dan mineral.