KALIMANTAN BARAT — Ketidakpastian nasib subsidi motor listrik kembali menghangat di tengah pasar yang menanti kejelasan regulasi. Alih-alih bersikap pasif, Aismoli memilih jalan realistis: tetap jalan di tempat tanpa menunggu kepastian anggaran dari pemerintah.
"Kita sudah sering menghadapi situasi kayak gini. Artinya, ya sudah, yang penting kita kerja untuk bangun industri, kemudian kita kerja untuk marketing dan sebagainya tanpa ada subsidi dulu lah," ujar Budi kepada Kompas.com, Minggu (19/7/2026).
Skema Subsidi Motor Listrik Berbeda dengan Mobil, Butuh Dana Tunai APBN
Perbedaan mendasar pada mekanisme pembiayaan menjadi alasan utama pemerintah disebut lebih mendahulukan mobil listrik. Untuk roda empat, insentif diberikan melalui skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPNDTP). Skema ini tidak membutuhkan pengeluaran dana tunai di muka dari APBN, melainkan hanya potensi kehilangan penerimaan pajak dari setiap transaksi.
Sebaliknya, motor listrik membutuhkan subsidi langsung yang berarti pemerintah harus menyiapkan dana baru dalam anggaran Kementerian Perindustrian. "Dana dari mana untuk nanti dimasukkan dalam anggarannya Kemenperin. Jadi, sampai dengan sekarang kami masih menunggu saja," kata Budi.
Isu Insentif Justru Membekukan Pasar, Konsumen Wait and See
Budi menyebut wacana insentif kerap menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi memberi angin segar, di sisi lain justru menahan laju penjualan secara mendadak. Setiap kali ada pernyataan pejabat negara mengenai perubahan nilai subsidi, calon pembeli cenderung menunda transaksi dengan harapan harga lebih murah setelah aturan baru diketuk.
Fenomena ini membuat pasar motor listrik kerap mengalami stagnasi di tengah hiruk-pikuk isu kebijakan. Alih-alih mendorong adopsi, ketidakpastian regulasi justru membekukan permintaan.
Strategi Aismoli: Bangun Fondasi Industri Tanpa Stimulus
Menghadapi situasi ini, Aismoli mengimbau para produsen untuk mengubah pola pikir. Industri tidak boleh bersikap pasif dan hanya menggantungkan operasional pada subsidi. Fokus utama yang didorong adalah penguatan lini pemasaran, peningkatan kualitas layanan pascajual, serta pembangunan fondasi industri yang kokoh secara mandiri.
Langkah ini dinilai krusial agar ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dapat tumbuh secara organik dan memiliki daya tahan bisnis yang kuat. Tanpa terus-menerus ditopang stimulus finansial, industri diharapkan mampu berdiri di kaki sendiri dalam jangka panjang.