SAMBAS — Pelataran PLBN Aruk, yang biasanya sepi dan dijaga ketat personel bersenjata, berubah menjadi panggung keramaian yang tak biasa. Ribuan warga dari desa-desa sekitar Kecamatan Sajingan Besar berduyun-duyun datang sejak pagi. Mereka bukan untuk mengurus dokumen lintas batas, melainkan untuk menyaksikan Bobon Santoso mengaduk puluhan kilogram bahan makanan di kuali raksasa bertuliskan "Merah Putih".
Bobon Santoso, yang dikenal dengan aksi memasak dalam jumlah besar di berbagai daerah terpencil, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar konten YouTube. "Masak Besar Kuali Merah Putih adalah media strategis untuk berbagi kebahagiaan dan menanamkan nilai kebangsaan secara humanis," ujar Bobon di sela-sela kesibukannya mengaduk masakan.
Ia mengaku sangat bangga bisa menginjakkan kaki di garis batas negara dan menyapa langsung masyarakat yang tinggal di ujung barat Pulau Kalimantan. "Saya sangat senang bisa berada langsung di garis batas negara ini untuk berbagi tawa bersama warga," tambahnya.
Kegiatan ini digarap Bobon bersama Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yon Arhanud 1/PBC/1 Kostrad. Personel TNI yang sehari-hari berjaga di pos-pos perbatasan ikut membantu mengangkut bahan makanan, mengatur antrean, dan duduk makan bersama warga.
Kepala PLBN Aruk, Viktorius Dunand, menilai kegiatan komunal semacam ini membawa dampak psikologis yang besar bagi masyarakat perbatasan. "Sinergitas lintas sektoral dapat terus terjalin erat. Langkah ini sangat efektif dalam memperkuat semangat persatuan serta menjaga integritas sosiologis masyarakat di beranda terdepan negara," ungkap Viktorius, Selasa (9/6/2026).
Tak sekadar urusan perut, rangkaian bakti sosial juga digelar. Warga perbatasan mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, hingga khitanan massal bagi anak-anak. Puluhan anak laki-laki dari keluarga kurang mampu menjalani sunatan gratis yang ditangani tim medis dari puskesmas setempat dan relawan.
Kemeriahan acara semakin lengkap dengan penampilan atraksi budaya Dayak dari Kelompok Adat Tariu Borneo Bangkule Rajank (TBBR). Tarian dan musik tradisional yang ditampilkan di tengah kerumunan warga dan personel TNI-Polri menjadi pengingat bahwa identitas lokal adalah pilar kokoh penopang nasionalisme di wilayah tapal batas.