PONTIANAK — Suara tawa dan percikan air memenuhi Taman Alun Kapuas saat ratusan peserta saling menyiram menggunakan pistol air. Atraksi perang air ini menjadi puncak kemeriahan Festival Bakcang 2026 yang resmi dibuka Wali Kota Pontianak.
Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak (KBTP), Hendri Pangestu Lim, mengatakan kegiatan perang air telah menjadi konsep festival sejak tahun lalu. Tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua dan terlihat jauh lebih ramai dibandingkan edisi perdana.
“Kami sudah mencanangkan sejak tahun 2025 bahwa festival berikutnya harus lebih meriah. Ada dukungan dari sembilan organisasi relawan kebencanaan yang ikut membantu memeriahkan acara,” ujarnya.
Menurut Hendri, perang air bukan sekadar hiburan. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan tanpa membedakan latar belakang masyarakat yang hadir.
“Di sini tidak ada perbedaan. Semua sama, semua bergembira bersama. Ini bagian dari tradisi dan kebudayaan Tionghoa yang kami laksanakan melalui makan bakcang bersama dan bermain air bersama masyarakat,” katanya.
Pada pelaksanaan perdana tahun lalu, panitia menyediakan sekitar 300 pistol air yang dibagikan kepada masyarakat. Sebagian besar perlengkapan tersebut masih digunakan kembali tahun ini karena peserta menyimpannya untuk festival berikutnya.
Melihat antusiasme yang terus meningkat, KBTP berencana menjadikan perang air sebagai agenda tetap dalam Festival Bakcang di Kota Pontianak. Festival ini diharapkan mampu menjadi atraksi budaya unggulan yang menarik wisatawan.
Selain atraksi perang air, panitia juga menyediakan sekitar 15 stan UMKM sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha lokal. Hendri menyebut festival budaya tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Hendri menerima piagam penghargaan dari Wali Kota Pontianak dan Kepala UPT Museum Kalimantan Barat atas inisiatif pembagian 1.000 bakcang gratis kepada masyarakat. Program sosial ini rutin dilaksanakan setiap perayaan Festival Bakcang.
Rangkaian acara di panggung juga menampilkan berbagai pertunjukan budaya yang disambut antusias oleh pengunjung. Festival yang digelar di Taman Alun Kapuas ini mendapat dukungan dari Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kota Pontianak serta berbagai pihak lainnya.