PONTIANAK — Perayaan budaya tahunan di Kalimantan Barat ini dinilai mampu merekatkan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Festival Bak Cang, yang identik dengan tradisi masyarakat Tionghoa, kini menjadi milik semua warga Kalbar tanpa memandang latar belakang suku dan agama.
Modal Sosial dari Tradisi Bak Cang
Menurut Meidy Vinandar Pratama, nilai gotong royong dan toleransi yang muncul selama festival berlangsung merupakan modal sosial yang penting. "Festival Bak Cang bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semangat kebersamaan itu harus terus dijaga. Keberagaman di Kalbar, menurutnya, adalah kekuatan yang perlu dirawat melalui kegiatan semacam ini.
Museum Bukan Hanya Milik Pemerintah
Momentum festival ini juga dimanfaatkan Museum Kalbar untuk mengajak masyarakat lebih aktif. Meidy mengajak warga untuk tidak hanya berkunjung, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan museum.
"Museum bukan hanya milik pemerintah, melainkan milik seluruh masyarakat Kalimantan Barat. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk berkunjung, belajar, terlibat dalam kegiatan museum, serta bersama-sama mendukung pengembangan museum agar semakin relevan dan bermanfaat," katanya.
Warisan Keluarga Bisa Jadi Koleksi Museum
Pihak museum membuka kesempatan bagi warga yang memiliki benda bersejarah untuk menitipkannya. Foto lama, arsip keluarga, peralatan tradisional, hingga cerita berharga dari masa lalu bisa menjadi bagian dari koleksi museum.
"Setiap keluarga mungkin menyimpan benda bersejarah, foto lama, peralatan tradisional, atau cerita yang berharga. Jangan biarkan warisan itu hilang dimakan waktu. Mari titipkan sejarah Kalimantan Barat kepada museum agar dapat dipelajari dan dinikmati oleh generasi mendatang," ucap Meidy.
Dengan langkah ini, museum berharap bisa menjadi pusat edukasi, pelestarian, penelitian, dan rekreasi budaya yang benar-benar hidup bersama masyarakat.