PONTIANAK — Suhu udara yang terik di tepi Sungai Kapuas tidak menyurutkan semangat warga mengikuti Festival Bakcang 2026. Mereka larut dalam riuh rendah perang air yang berlangsung di Jalan Rahadi Usman, kawasan Taman Alun Kapuas, Jumat (19/6/2026) siang.
Atraksi perang air yang baru memasuki tahun kedua ini menjadi daya tarik utama. Panitia menyiapkan sekitar 300 pistol air, namun banyak peserta datang membawa mainan serupa dari tahun lalu, menandakan acara ini telah dinantikan.
"Di sini tidak ada perbedaan. Semua sama, semua bergembira bersama. Ini bagian dari tradisi dan kebudayaan Tionghoa yang kami laksanakan melalui makan bakcang bersama dan bermain air bersama masyarakat," ujar Hendri Pangestu Lim, Ketua KBTP, di sela-sela kemeriahan.
Di tengah hiruk pikuk perang air, aroma gurih bakcang tercium dari area pembagian makanan. Panitia membagikan seribu bakcang gratis kepada warga yang hadir. Inisiatif sosial ini mendapat apresiasi berupa piagam penghargaan dari Wali Kota Pontianak dan Kepala UPT Museum Kalimantan Barat.
Sebanyak sembilan organisasi relawan kebencanaan turun tangan dalam festival ini. Alih-alih bertugas di lokasi bencana, mereka memastikan keamanan dan kelancaran selama perang air berlangsung. Peran mereka menunjukkan bahwa tradisi budaya bisa menjadi ajang kolaborasi lintas sektor.
Festival ini tidak hanya soal budaya dan keseruan. Sekitar 15 stan UMKM tampak sibuk melayani pembeli di pinggiran taman. Hendri menuturkan bahwa pelestarian tradisi harus berjalan beriringan dengan perputaran roda ekonomi rakyat. Kehadiran stan-stan tersebut menjadi bukti bahwa festival budaya mampu menjadi panggung bagi pelaku usaha kecil untuk naik kelas.
Rencananya, KBTP akan menjadikan perang air ini sebagai agenda tetap. Atraksi ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan ke Pontianak di tahun-tahun mendatang.