PONTIANAK — Modus penipuan lowongan kerja melalui media sosial kembali memakan korban. Kali ini tiga pemuda asal Kalimantan Barat dilaporkan menjadi korban setelah tergiur tawaran pekerjaan di Facebook yang ternyata hanya jebakan. Mereka diterbangkan ke Kamboja dan dipaksa bekerja sebagai operator penipuan daring di sebuah kawasan bisnis di Sihanoukville.
Ketiga korban, yang diketahui berasal dari Kabupaten Landak dan Kota Pontianak, awalnya melihat unggahan lowongan kerja di grup Facebook. Tawaran yang menggiurkan—gaji Rp 15 juta hingga Rp 25 juta per bulan plus fasilitas tiket dan akomodasi—membuat mereka nekat berangkat pada awal tahun ini.
Namun setibanya di Kamboja, paspor mereka langsung ditahan. Mereka dipaksa bekerja 12 jam sehari di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penipuan investasi dan modus love scam. "Kalau menolak, mereka diancam tidak akan digaji dan tidak boleh pulang," ujar sumber kepolisian di Polda Kalbar yang enggan disebutkan namanya.
Para korban baru bisa menghubungi keluarga setelah tiga bulan bekerja. Mereka mengirim pesan singkat melalui aplikasi chat secara sembunyi-sembunyi, meminta bantuan untuk dipulangkan. Salah satu orang tua korban melapor ke Polres Landak pada pekan lalu setelah anaknya mengirim lokasi dan foto kantor tempat ia bekerja.
Petugas gabungan dari Polda Kalbar dan Kementerian Luar Negeri kini tengah berkoordinasi dengan KBRI di Phnom Penh untuk proses pemulangan. Namun upaya ini terhambat karena dokumen perjalanan korban ditahan oleh perusahaan di Kamboja.
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar telah mengidentifikasi dua akun Facebook yang diduga digunakan untuk merekrut korban. Akun-akun itu aktif menawarkan lowongan kerja ke luar negeri dengan iming-iming gaji besar tanpa syarat pengalaman. "Kami masih menelusuri siapa pengelola akun tersebut, apakah perorangan atau bagian dari sindikat internasional," kata Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol. Raden Petit Wijaya.
Polisi mengimbau masyarakat yang pernah mendapatkan tawaran serupa untuk segera melapor. Kasus ini menjadi pengingat bahwa modus perdagangan orang kini semakin masif melalui media sosial, terutama Facebook yang masih menjadi platform utama perekrutan tenaga kerja informal di daerah.
Para kriminolog menilai pemuda dari daerah pedalaman seperti Landak dan Sanggau menjadi sasaran empuk karena minimnya akses informasi dan lapangan pekerjaan. "Mereka yang putus sekolah atau lulusan SMA yang menganggur paling rentan," ujar pengamat sosial Universitas Tanjungpura, Dr. Ahmad Syarif. Ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif memberikan literasi digital kepada pemuda di desa-desa agar tidak mudah tergiur tawaran kerja di luar negeri yang tidak jelas.