PONTIANAK — Kota Pontianak tak lagi mengukur keberhasilan program kesehatan dari seberapa besar anggaran yang mampu direalisasikan. Pemkot kini berfokus pada perubahan nyata yang dirasakan masyarakat, sebuah pergeseran yang didorong oleh skema pembiayaan berbasis kinerja dari pemerintah pusat dan Bank Dunia.
Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah saat membuka Pendampingan Performance Improvement Plan (PIP) DAU-Specific Grant Bidang Kesehatan Tahap II Tahun 2026-2027 di Aula A Muis Amin Bapperida, Rabu (15/7/2026). Menurutnya, sejak pendampingan tahap pertama, Pemkot telah memetakan berbagai indikator prioritas kesehatan melalui gap analysis, fishbone analysis, dan root cause analysis.
“Hasilnya bukan hanya daftar permasalahan, tetapi sebuah peta jalan atau roadmap yang menjelaskan akar persoalan, faktor penyebab, peluang perbaikan, serta strategi intervensi yang paling efektif,” ujar Amirullah.
Skema DAU-Specific Grant dibangun di atas prinsip performance-based financing. Artinya, daerah tak hanya dituntut menyerap anggaran, tapi juga menghasilkan dampak yang terukur. Amirullah menegaskan, ukuran keberhasilan bukanlah besarnya dana yang diterima, melainkan perubahan yang mampu diwujudkan.
“Bukan karena realisasi anggarannya semakin besar, tetapi dampaknya, outcome-nya, yang kita harapkan dari kegiatan ini,” jelasnya.
Dalam bidang kesehatan, dampak program harus terlihat pada peningkatan kualitas layanan, perubahan indikator, dan perbaikan derajat kesehatan masyarakat. Paradigma ini, kata Amirullah, sejalan dengan perubahan cara mengukur keberhasilan pembangunan yang kini semakin komprehensif.
Amirullah menjelaskan, indikator kesehatan dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga mengalami pergeseran. Sebelum 2014, aspek kesehatan banyak dilihat dari tingkat kematian ibu melahirkan dan bayi lahir. Kini, indikator tersebut bergeser pada usia harapan hidup.
“Artinya, semakin ke sini, mengukur keberhasilan pembangunan itu semakin komprehensif dan mencakup semua aspek. Tidak hanya fisik, tetapi juga nonfisik,” ungkapnya.
Kota Pontianak sendiri mencatatkan IPM di kisaran 82—tergolong tinggi. Sementara usia harapan hidup masyarakat mencapai sekitar 76 tahun. “Artinya, seseorang yang lahir sekarang di Kota Pontianak memiliki harapan hidup hingga sekitar 76 tahun ke depan,” ujar Amirullah.
Amirullah berharap capaian itu terus ditingkatkan melalui perencanaan program kesehatan yang lebih baik dan berbasis data. Ia meminta peserta pendampingan serius mengikuti proses, mulai dari identifikasi masalah, mencari penyebab, menyiapkan alternatif pemecahan, hingga menyusun rencana aksi dan menghitung kebutuhan biaya.
“Itu cara membuat perencanaan yang benar. Mulai dari identifikasi masalah, cari penyebabnya, siapkan alternatif pemecahan, buat rencana aksi, ukur biaya yang dibutuhkan, lalu tentukan sumber dananya,” jelasnya.
Ia menilai, pendampingan menjadi penting karena perencanaan tak cukup dilakukan sendiri. Dengan adanya pendamping dari berbagai pihak, perspektif pemerintah daerah menjadi lebih luas dan kualitas perencanaan dapat diperkuat. “Dengan pendampingan, ada hal-hal yang tidak kita ketahui bisa dibantu oleh pendamping. Ilmu kita menjadi lebih luas,” katanya.