Label Musik Besar Desak Lagu Buatan AI Dilarang Masuk Tangga Lagu Global

Penulis: Oman Sudirman  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 01:09:31 WIB
Tiga label musik global mendesak penyelenggara tangga lagu agar hanya mengizinkan lagu yang dibuat manusia masuk peringkat.

KALIMANTAN BARAT — Puluhan ribu lagu buatan AI dikabarkan membanjiri platform streaming musik setiap harinya. Fenomena ini mendorong tiga raksasa industri musik dunia—Sony Music, Universal Music Group, dan Warner Music Group—untuk bergerak bersama. Mereka meminta penyelenggara tangga lagu global menerapkan aturan yang lebih ketat terhadap musik yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan.

Aturan Baru untuk Tangga Lagu: Manusia Harus Jadi Utama

Koalisi label besar ini, yang juga didukung oleh sejumlah label independen, mengajukan syarat tegas. Mereka mendesak agar hanya lagu yang dibuat secara primer oleh manusia yang boleh masuk dalam peringkat. Setiap keterlibatan AI dalam proses produksi harus terbukti sah secara hukum.

“Musik yang berpotensi melakukan kecurangan streaming tidak boleh diizinkan masuk ke tangga lagu di seluruh dunia,” demikian pernyataan koalisi tersebut seperti dikutip dari laporan The Hollywood Reporter. Langkah ini muncul setelah serangkaian gugatan hukum diajukan oleh label besar, termasuk Sony, yang menuduh generator musik AI seperti Suno dan Udio melatih model mereka menggunakan karya berhak cipta tanpa izin.

Tekanan ke Platform Streaming: Label Minta Transparansi AI

Tekanan terhadap perusahaan streaming semakin meningkat. Awal bulan ini, Recording Industry Association of America (RIAA) dan International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) mengusulkan sistem pelabelan baru. Sistem ini akan menandai lagu yang sepenuhnya atau sebagian dibuat oleh AI di aplikasi streaming.

Apple telah lebih dulu memperkenalkan fitur “Transparency Tags” yang cara kerjanya serupa. Namun, penerapan label tersebut saat ini masih bergantung pada kebijakan masing-masing label dan distributor musik.

Banjir Lagu Spam: Spotify Hapus 75 Juta Track

Di sisi lain, kemajuan teknologi justru mempermudah siapa pun untuk menciptakan musik hanya dengan modal perintah teks. Google, misalnya, melalui model Lyria Pro 3, kini bisa menghasilkan lagu hingga tiga menit. Pengguna bahkan bisa membuat elemen spesifik seperti intro, chorus, dan bridge secara terpisah.

Dampaknya sudah terlihat. Tahun lalu, Spotify terpaksa menghapus lebih dari 75 juta lagu yang dianggap “spammy” dari platformnya. Laporan menyebutkan puluhan ribu lagu buatan AI dikirimkan setiap hari ke layanan seperti Deezer dan Spotify.

Langkah koalisi label besar ini menjadi sinyal kuat bahwa industri musik tidak akan tinggal diam terhadap invasi konten sintetis. Bagi pengguna layanan streaming di Indonesia, perubahan ini berpotensi membuat daftar putar harian menjadi lebih autentik dan bebas dari lagu hasil rekayasa mesin yang tidak memiliki izin.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top