SINTANG — Komisi V DPR RI menyoroti maraknya praktik perjudian dan konsumsi minuman keras yang dinilai mencemari pelaksanaan Pekan Gawai Dayak (PGD) di Kalimantan Barat. Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menegaskan bahwa aktivitas tersebut menyimpang dari nilai-nilai adat dan mencoreng makna Gawai Dayak sebagai warisan budaya.
Lasarus mengaku mendengar laporan dari sejumlah kampung di Kalbar bahwa perjudian justru lebih ramai dibandingkan kegiatan adat itu sendiri. Ia menyesalkan kondisi tersebut dan meminta agar praktik serupa segera dihentikan.
“Saya tidak akan sebutkan nama kampungnya. Di sana lebih ramai judinya daripada gawainya. Betul tidak? Kalau memang betul, hentikan,” tegasnya saat pembukaan Pekan Gawai Dayak Sintang ke-XIII Tahun 2026 di Rumah Betang Tampun Juah, Jerora Satu, Sintang, Rabu (29/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Lasarus secara khusus meminta organisasi adat Dayak seperti TBBR dan Sabang Merah Borneo untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga kemurnian budaya. Ia meminta seluruh elemen organisasi adat turut mengawasi jalannya gawai di desa-desa.
“Kepada TBBR, kepada Sabang Merah Borneo sebagai garda terdepan, dan organisasi adat Dayak lainnya sebagai penjaga budaya adat Dayak, yang melenceng ini pinggirkan,” pintanya.
Lasarus juga menyampaikan permintaan khusus kepada jajaran kepolisian yang hadir dalam acara tersebut. Ia berharap penanganan praktik perjudian di desa-desa mengedepankan langkah persuasif terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan hukum.
“Kepada yang mewakili Kapolres, saya mohon diingatkan mereka. Kalau ada judi di gawai-gawai desa, kasih peringatan dulu, jangan langsung ditangkap,” katanya.
Sebagai putra Dayak, Lasarus mengajak seluruh elemen masyarakat dan Dewan Adat Dayak untuk bersama-sama membersihkan berbagai praktik yang tidak sesuai dengan nilai budaya. Ia menegaskan pentingnya menjaga nama baik komunitas Dayak di mata publik.
“Saya mohon izin sebagai putra Dayak, hal-hal yang menyimpang dari budaya adat Dayak tolong dibersihkan dari ritual-ritual Gawai yang mengatasnamakan kita orang Dayak,” tegasnya.
Lasarus lantas menceritakan masa kecilnya yang ditinggal ibunya sejak berusia dua tahun. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Saya ingin menyampaikan bahwa untuk sampai di titik ini ada proses yang saya lewati. Saya tidak mencapainya dengan berjudi, mabuk-mabukan, atau bermalas-malasan. Saya memilih bekerja keras dan berani bertarung untuk meraih hal-hal terbaik,” pungkasnya.