KALIMANTAN BARAT — Kesepakatan ini mengakhiri spekulasi masa depan Pochettino pasca tersingkirnya Amerika Serikat dari Piala Dunia 2026 yang mereka gelar sendiri. Kegagalan melaju ke perempat final setelah dihancurkan Belgia 1-4 ternyata tidak mengubah pandangan federasi terhadap kapasitas pelatih berusia 54 tahun tersebut.
US Soccer menyebut peran Pochettino akan diperluas. Ia tidak hanya bertanggung jawab atas tim senior, tetapi juga diminta untuk "memberi saran dan dukungan" untuk pengembangan jalur tim nasional, sepak bola usia muda, pendidikan pelatih, hingga kolaborasi dengan liga profesional.
Kabar perpanjangan kontrak ini bukanlah hal baru. The Guardian pekan lalu sudah melaporkan negosiasi berada di tahap akhir. Namun, yang menarik adalah sosok di balik layar yang kembali mendanai gaji pelatih termahal dalam sejarah US Soccer itu.
Miliarder pengelola dana lindung nilai Ken Griffin, yang membiayai kontrak awal Pochettino, dipastikan kembali menjadi pendana utama untuk kesepakatan baru ini. Sumber yang mengetahui perjanjian tersebut menyebut kembalinya Pochettino merupakan bagian dari "peran yang diperluas", dengan fokus utama tetap pada tim senior.
Jalan Pochettino di Piala Dunia 2026 sejatinya dimulai dengan gemilang. Kemenangan telak 4-1 atas Paraguay di laga pembuka disebut sebagai penampilan terbaik dalam sejarah program timnas AS di turnamen besar. Namun, performa apik itu luluh lantak saat berhadapan dengan Belgia di babak 16 besar.
Kekalahan tersebut memicu kritik tajam kepada pelatih dan sejumlah pemain kunci. Meski demikian, Pochettino menilai 20 bulan masa kepemimpinannya terlalu singkat untuk membangun sebuah proses yang ideal.
"Dengan hal-hal baik dan tidak begitu baik, ini adalah perjalanan yang luar biasa," ujar Pochettino kepada The Guardian usai kekalahan dari Belgia. "Kami semua tahu bahwa sebuah proses adalah siklus empat tahun. Hari ini saya pikir kami menutup babak tentang menilai pemain. Jika kami berkomitmen untuk berada di sini di masa depan, kami punya gambaran jelas untuk keputusan kami ke depan."
Selama menukangi The Stars and Stripes, Pochettino mencatatkan rekor 18 kemenangan, 12 kekalahan, dan satu imbang. Awal masa baktinya diwarnai hasil buruk, seperti finis keempat di Nations League 2025 dan kekalahan dari Meksiko di final Gold Cup.
Namun, ia juga punya momen manis, termasuk kemenangan telak 5-1 atas Uruguay di laga uji coba. Meski begitu, target utamanya sejak awal jelas: membawa AS melewati babak 16 besar di Piala Dunia kandang. Target itu gagal, tetapi federasi memberi kesempatan kedua untuk menuntaskan misi tersebut pada 2030. Pochettino juga dikenal dekat dengan para pemain, meski sempat bentrok dengan Christian Pulisic karena dianggap kurang berkomitmen.