PGN Gandeng Toyota Tsusho Bangun Pabrik Biomethane dari Limbah Sawit

Penulis: Oman Sudirman  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 10:21:01 WIB
PGN bersama Toyota Tsusho Indonesia dan KIS Biofuels membangun pabrik biomethane berkapasitas 150.000 MMBTU per tahun di Kalimantan Barat.

KALIMANTAN BARAT — PGN menggandeng Toyota Tsusho Indonesia dan KIS Biofuels membangun pabrik biomethane berkapasitas 150.000 MMBTU per tahun dari limbah cair kelapa sawit. Fasilitas ini menjadi langkah awal memasukkan gas terbarukan domestik ke rantai pasok energi nasional.

Paragraf pembuka: PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk menegaskan kesiapannya mendukung pembangunan fasilitas biomethane yang digarap Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS). Kolaborasi ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan pasokan energi domestik sekaligus mempercepat dekarbonisasi sektor industri.

Kapasitas Produksi dan Skema Kemitraan

Pabrik biomethane yang diresmikan lewat peletakan batu pertama itu memanfaatkan limbah organik kelapa sawit sebagai bahan baku. Target produksinya sekitar 150.000 MMBTU per tahun.

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menyebut pembangunan fasilitas ini sebagai langkah penting menghadirkan gas terbarukan dari sumber domestik ke dalam rantai pasok energi nasional.

"PGN siap mendukung melalui infrastruktur dan kapabilitas niaga yang kami miliki agar biomethane dapat dimanfaatkan oleh sektor industri," kata Fajriyah, Selasa (6/10/2026) malam.

Keunggulan biomethane terletak pada infrastruktur yang sudah tersedia untuk gas bumi. Pelanggan bisa beralih bahan bakar ke biomethane hanya dengan modifikasi infrastruktur yang minimal.

Mengapa Limbah Sawit Jadi Kunci

Bahan baku yang dipakai adalah limbah cair pabrik kelapa sawit atau POME. Metana yang sebelumnya lepas ke atmosfer ditangkap dan diolah menjadi energi.

Langkah ini menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung target NDC dan Net Zero Emission 2060. Proyek ini juga memperkuat hilirisasi kelapa sawit dengan mengubah limbah menjadi energi bernilai ekonomi.

Fajriyah menambahkan, biomethane berperan strategis dalam mendukung swasembada energi dan dekarbonisasi industri.

"Ketika biomethane ini mulai berproduksi, industri seperti TMMIN akan memiliki akses terhadap energi rendah karbon yang mendukung daya saing di tengah tuntutan rantai pasok hijau global. Kami berharap model kolaborasi ini dapat direplikasi di daerah penghasil sawit lainnya," tambahnya.

Dampak ke Industri dan Daerah Penghasil Sawit

Pemanfaatan biomethane melengkapi penggunaan gas bumi yang terus meningkat seiring upaya dekarbonisasi di sektor industri. Pelanggan industri menjadi pihak yang paling langsung merasakan manfaatnya.

Selain itu, proyek ini membuka peluang ekonomi baru bagi daerah penghasil kelapa sawit. Limbah yang selama ini jadi beban lingkungan berubah menjadi komoditas energi.

PGN berharap model kemitraan semacam ini bisa direplikasi di wilayah lain. Dengan begitu, pasokan gas terbarukan domestik tidak bergantung pada satu titik produksi saja.

Penutup: Bagi PGN, proyek biomethane ini memperluas peran perseroan dari sekadar penyalur gas bumi menjadi penggerak energi rendah karbon. Keberhasilannya di satu lokasi akan menentukan seberapa cepat model serupa menyebar ke sentra sawit lain di Indonesia.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top