KALIMANTAN BARAT — Qualcomm pernah mendekati Intel untuk melisensikan arsitektur x86 saat bersiap masuk pasar PC, namun permintaan itu ditolak. Pengungkapan ini muncul dari kesaksian CEO Qualcomm, Cristiano Amon, dalam persidangan gugatan perusahaan terhadap Arm. Langkah tersebut, jika diterima, disebut bisa mengubah lanskap komputasi Windows secara signifikan.
Qualcomm ternyata tidak langsung menempuh jalur Arm ketika memutuskan masuk ke pasar PC. Dalam persidangan gugatan terhadap Arm, CEO Qualcomm Cristiano Amon mengungkap bahwa perusahaannya sempat menghubungi Intel untuk mendapatkan lisensi arsitektur x86. Intel menolak permintaan tersebut.
Penolakan itu bukan tanpa alasan. Hingga kini hanya Intel dan AMD yang memegang hak untuk memproduksi chip berbasis x86. Tidak ada pihak ketiga yang diizinkan mengembangkan prosesor dengan arsitektur tersebut.
Qualcomm pertama kali mengumumkan niatnya masuk ke segmen PC pada 2016. Ketika itu, perusahaan mengandalkan chip mobile Snapdragon 835 untuk menjalankan aplikasi x86 melalui emulasi. Pendekatan tersebut tidak langsung mendapat tempat di pasar.
Butuh sekitar delapan tahun sebelum chip PC sungguhan milik Qualcomm benar-benar diperhitungkan. Snapdragon X Elite kini menjadi tulang punggung ekosistem Windows on Arm yang terus tumbuh.
Amon tidak menyebut kapan persisnya pendekatan ke Intel terjadi. Sejumlah pengamat menduga langkah itu diambil sebelum pengumuman 2016, saat Microsoft mendorong kehadiran pesaing Intel di segmen PC. Dugaan lain mengarah ke awal 2020-an ketika Qualcomm mengakuisisi Nuvia untuk mengembangkan inti Arm kustomnya sendiri.
Seandainya Intel membuka pintu lisensi x86, peta komputasi Windows bisa berbeda jauh dari yang kita lihat sekarang. Qualcomm kemungkinan tidak perlu membangun ekosistem Windows on Arm seperti saat ini.
Konsekuensi lanjutannya, produk seperti Nvidia RTX Spark mungkin tidak akan pernah ada. Pangsa pasar Intel yang terus tergerus dalam beberapa tahun terakhir pun dinilai bisa dicegah.
Bagi Intel sendiri, lisensi x86 akan menandai pergeseran model bisnis. Perusahaan tidak lagi sekadar memproduksi chip sendiri, tetapi juga menjual teknologi di baliknya ke pihak lain.
Hubungan Qualcomm dan Arm kini memanas. Pada 2024, Arm menggugat Qualcomm terkait akuisisi Nuvia dan syarat perjanjian lisensi arsitektur yang dipakai untuk Snapdragon X Elite. CEO Arm bahkan sempat menyatakan semua laptop Snapdragon X Elite seharusnya dimusnahkan.
Qualcomm memenangkan perkara tersebut di semua dakwaan. Kini giliran Qualcomm yang menggugat Arm. Pengacara Arm menyebut langkah itu sebagai pembalasan dalam pernyataan pembukanya.
Qualcomm menuduh Arm tidak menghormati syarat perjanjian lisensinya, termasuk tidak menyediakan patch dan pengujian untuk inti Oryon. Arm disebut ingin keluar dari kesepakatan yang dinilai terlalu menguntungkan Qualcomm.
Satu slide dalam persidangan menampilkan isi perjanjian 2013. Qualcomm membayar lisensi per inti, dengan batas maksimal hanya empat inti. Artinya, Qualcomm bisa memproduksi chip datacenter dengan ratusan inti CPU dan hanya membayar untuk empat inti pertama.
Pada 2013, Qualcomm masih memproduksi chip Krait quad-core. Prosesor laptop 18 inti saat itu hanya angan-angan bagi kedua perusahaan. Namun, Arm dinilai seharusnya mempertimbangkan skenario ini ketika menyetujui perjanjian lisensi berdurasi 20 tahun.
Perbedaan cara kedua perusahaan menyampaikan argumen cukup mencolok. Arm memposisikan diri sebagai perusahaan asal Cambridge yang tidak pernah menolak lisensi ke siapa pun. Qualcomm menegaskan arah Arm berubah drastis sejak diakuisisi SoftBank pada 2016, yang diduga memengaruhi sikap Arm terhadap perjanjian lisensi arsitektur.
Sidang juri berlangsung sepanjang pekan ini dan diperkirakan rampung pada pekan depan.