PONTIANAK — Sebanyak 559 titik panas terpantau masuk kategori tingkat kepercayaan menengah, sementara 59 titik berkategori tinggi dan empat titik rendah. Pemantauan dilakukan BMKG selama periode pukul 00.00 hingga 23.59 WIB menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada sejumlah satelit.
Ketapang tidak hanya mencatat jumlah terbanyak secara keseluruhan, tetapi juga mendominasi kategori tinggi dengan 57 titik. Sisanya, 469 titik di kabupaten itu masuk kategori menengah.
Setelah Ketapang dan Sintang, Kabupaten Melawi mencatat 13 titik panas. Sanggau menyusul dengan sembilan titik, Kapuas Hulu enam titik, lalu Sekadau dan Kayong Utara masing-masing tiga titik.
Kabupaten Bengkayang terpantau dua titik panas, sedangkan Mempawah hanya satu titik. Data ini menunjukkan konsentrasi titik panas terkumpul di wilayah timur dan selatan Kalimantan Barat.
Kabupaten Kubu Raya, Sambas, Landak, Kota Pontianak, dan Kota Singkawang tercatat nihil titik panas pada pemantauan hari tersebut. Meski begitu, angka nol bukan jaminan wilayah-wilayah itu bebas dari potensi karhutla.
BMKG menjelaskan bahwa deteksi hotspot bisa gagal menangkap titik api apabila wilayah tertutup awan atau berada di area blank zone. Artinya, titik panas yang tidak terdeteksi satelit tetap mungkin muncul di lapangan.
Sensor VIIRS dan MODIS bekerja dengan menangkap anomali suhu permukaan dari luar angkasa. Tutupan awan tebal saat satelit melintas menjadi faktor utama yang membuat titik api luput dari pantauan.
Kondisi ini membuat verifikasi lapangan tetap diperlukan, terutama di daerah yang sebelumnya pernah menjadi lokasi karhutla berulang. Pemerintah daerah dan tim gabungan biasanya menindaklanjuti laporan titik panas dengan pengecekan langsung ke lokasi.
Konsentrasi titik panas yang tinggi di Ketapang dan Sintang meningkatkan risiko kebakaran meluas. Jika tidak ditangani cepat, karhutla berpotensi memicu kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas penerbangan.
Pemantauan harian BMKG menjadi acuan utama bagi pemangku kepentingan di daerah untuk menentukan langkah pencegahan. Warga di wilayah dengan titik panas tinggi diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Penanganan di lapangan dinilai tetap kunci untuk mencegah kebakaran menyebar, terutama pada periode kemarau yang membuat lahan gambut mudah terbakar.