Amran Bagi Benih Jagung Gratis 20 Ribu Hektare, Bulog Jadi Penampung

Penulis: Mustofa Kamal  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 15:21:01 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyalurkan benih jagung gratis untuk 20 ribu hektare lahan petani binaan asosiasi peternak.

KALIMANTAN BARAT — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyalurkan benih jagung gratis untuk 20 ribu hektare lahan petani binaan asosiasi peternak, Jumat (9/10/2026), guna menekan harga pakan yang kini mencapai Rp 8.400 per kilogram. Program ini menyasar bulan-bulan kritis pasokan pakan, September hingga Desember, dengan Bulog disiapkan sebagai penyerap hasil panen.

Kementerian Pertanian menargetkan bantuan benih berjalan hingga Desember mendatang. Skema yang dipakai bukan sekadar bagi-bagi benih, melainkan membangun rantai produksi tertutup: peternak membina petani jagung, hasil panennya langsung diserap untuk pakan, dan Bulog masuk sebagai penampung ketika produksi berlebih.

Amran menyampaikan hal itu di kawasan Kalibata, Jakarta. Menurut dia, pendekatan dari hulu ke hilir ini dipilih karena persoalan pakan tidak bisa diselesaikan hanya dengan impor atau operasi pasar sesaat.

Mengapa Harga Pakan Melonjak Tiap Akhir Tahun

Harga jagung pakan di tingkat peternak saat ini berada di kisaran Rp 8.000 hingga Rp 8.400 per kilogram. Angka itu jauh di atas harga wajar yang dinilai sekitar Rp 6.000 per kilogram.

Amran menyebut lonjakan terjadi berulang setiap September, Oktober, November, dan Desember. Pada periode itu pasokan menipis sementara kebutuhan peternak ayam petelur tetap tinggi.

"(Harga) pakan mahal, itu masalahnya, dan masalahnya di bulan September, Oktober, November, Desember. Di sini kita jaga tiap tahun. Insyaallah tahun ini kita benahi, mudah-mudahan tahun depan tidak terjadi lagi," tegas Amran.

Untuk meredam gejolak jangka pendek, Bulog diminta menyalurkan jagung pakan bersubsidi lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Jagung SPHP dijual Rp 5.000 per kilogram khusus peternak skala mikro, dengan alokasi sekitar 5.000 ton per provinsi.

Bulog Jaga Stok 250 Ribu Ton di Bulan Kritis

Amran meminta Bulog memastikan stok jagung bertahan di level 250 ribu ton sepanjang empat bulan rawan pasokan. Stok itu menjadi bantalan agar harga tidak melonjak dan peternak tetap bisa berproduksi.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan pihaknya sudah menggerakkan pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi. Jagung didatangkan dari Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, hingga Sulawesi Selatan.

"Sekarang sudah bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak, lebih kurang 15.000 ton. Nah, untuk yang bongkar di Tanjung Perak ini nanti kami distribusikan ke Jawa seluruhnya," ucap Rizal.

Distribusi pekan ini dibagi proporsional, masing-masing provinsi menerima 5.000 ton. Lampung tidak perlu mengirim pasokan ke Jawa karena sudah menyiapkan stok lebih dari 5.000 ton di wilayah sendiri.

Siapa yang Paling Diuntungkan

Peternak ayam petelur skala kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung. Selama ini mereka menanggung pakan sebagai komponen biaya terbesar, sehingga kenaikan harga jagung langsung menekan margin usaha.

Petani jagung binaan juga mendapat kepastian pasar. Dengan Bulog berperan sebagai off-taker, risiko panen tidak terserap berkurang, terutama saat produksi sedang melimpah.

Amran menegaskan bantuan benih gratis akan terus berjalan sampai Desember. Setelah ditanam dan panen, hasilnya dibeli peternak, dan jika terjadi oversupply, Bulog mengambil alih pembelian.

"Kemudian setelah ini tumbuh ditanam, yang membeli adalah kalau peternak katakanlah oversupply, yang menjadi off-taker untuk yang dibina langsung dibeli oleh Bulog," ujarnya.

Langkah Kementerian Pertanian ini menyasar akar masalah yang berulang tiap tahun. Jika skema hulu-hilir berjalan sesuai rencana, harga jagung pakan bisa kembali mendekati Rp 6.000 per kilogram dan biaya produksi peternak ayam petelur tidak lagi melonjak di penghujung tahun.

Reporter: Mustofa Kamal
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top