Pontianak — Dunia akademik Kalimantan Barat mencatat pencapaian penting. Prof. Dr. Erwin, S.Ag., M.Ag., dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak kelahiran Sambas, resmi diangkat menjadi Guru Besar (Profesor) dalam disiplin Sejarah Pendidikan Islam. Penganugerahan ini memvalidasi perjalanan intelektual seorang akademisi yang sejak awal karier fokus pada kajian manuskrip klasik Borneo, bahasa Melayu Sambas, hingga aksara Arab Melayu (Jawi).
Erwin bukan akademisi biasa. Ia mengintegrasikan peran sebagai peneliti, pendokumentasi budaya, dan praktisi pelestarian warisan lokal dalam satu sosok. Pendekatan ini membedakannya dari kolega lain di dunia akademik nasional, khususnya dalam menjembatani kajian sejarah pendidikan Islam dengan realitas konteks Melayu Borneo yang spesifik.
Lima Karya Pelestarian dalam Lima Tahun Terakhir
Gelar Profesor bukanlah pengakuan atas satu karya tunggal. Sepanjang karier akademiknya, Erwin telah menghasilkan sejumlah karya rujukan yang memperkaya dokumentasi budaya lokal dan warisan intelektual Melayu. Dalam lima tahun terakhir saja, ia menerbitkan lima buku signifikan.
Pertama, Kamus Bahasa Melayu Sambas (2020) menjadi usaha sistematis pertama untuk mendokumentasikan leksikon lokal yang terancam hilang. Kemudian, Karya Pusaka Maharaja Imam Sambas (2023) merevitalisasi pemikiran seorang ulama-intelektual kunci di sejarah Sambas. Erwin dilanjutkan dengan Tesaurus Melayu Sambas (2024) untuk memperkaya relasi semantik bahasa daerah.
Dua karya terbaru—Jejak Adat Warisan Ilmu: Glosarium Tradisi Pernikahan Melayu Sambas dan Transliterasi Kitab Mi'raj Juzu' karya H. Ismail Mundu, keduanya terbit 2025—menunjukkan momentum penelitian yang masih aktif. Karya-karya ini tidak sekadar literatur daerah, melainkan sumber primer bagi studi kebudayaan Melayu di kawasan Borneo yang lebih luas.
Konsistensi dalam Kajian Manuskrip dan Pemikiran Pendidikan Islam
Sebagai Guru Besar Sejarah Pendidikan Islam, Erwin dikenal konsisten menyorot nilai-nilai pendidikan dalam kitab-kitab klasik Borneo yang umumnya diabaikan oleh mainstream akademik. Penelitiannya menganalisis karya Tuan Besar Raja Kubu Syarif Saleh Alaydrus (wafat 1943), terutama manuskrip Nasihat al-Zaman dan Hidayyat al-Irshad Fi Nasihat al-Walad, yang mengandung konsepsi pendidikan komprehensif.
Di luar itu, ia menggali pemikiran pembaharuan pendidikan Islam melalui manuskrip Maharaja Imam Basiuni Imran Sambas. Fokus riset terbaru Erwin mengarah pada Baitul Mal Kerajaan Sambas periode 1915–1931, sebuah institusi filantropi Islam yang berfungsi sebagai instrumen transformasi sosial dan keislaman di tingkat komunitas lokal.
Pelatihan dan Pengabdian Menjangkau Enam Negara
Gelar Profesor diiringi intensitas pengabdian kepada masyarakat yang sama tingginya. Sepanjang 2025, Erwin menyelenggarakan pelatihan baca-tulis Arab Melayu (Jawi) bagi pelajar di Kabupaten Sambas dan Mempawah, serta literasi budaya Sambas untuk guru-guru setempat. Tahun depan, ia menjadwalkan workshop literasi manuskrip Borneo untuk mahasiswa se-Kalimantan Barat.
Di tingkat internasional, kiprah Erwin semakin diakui. Sejak 2023 hingga 2026, ia secara konsisten hadir sebagai pembicara dalam forum bergengsi, termasuk Borneo Islamic International Conference di Samarinda, Bandar Seri Begawan, dan Pontianak. Puncaknya, pada 2026 Erwin dijadwalkan menjadi pembicara tamu dalam International Seminar and Dai Capacity Building Program di Sambas yang akan dihadiri akademisi dari enam negara—Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Filipina.
Penganugerahan Profesor mengukuhkan posisi Erwin sebagai intelektual yang berhasil menghubungkan tradisi keagamaan Islam klasik dengan kebutuhan masyarakat kontemporer, khususnya dalam pelestarian identitas budaya Melayu di era modernisasi.