Peneliti keamanan Andy Nguyen merilis proyek ps5-linux yang memungkinkan konsol PlayStation 5 menjalankan sistem operasi Ubuntu 24.04 secara fungsional. Melalui celah keamanan pada hypervisor, pengguna kini bisa memanfaatkan tenaga CPU Zen 2 dan GPU RDNA 2 milik Sony untuk menjalankan aplikasi desktop hingga game Steam. Langkah ini kembali membuktikan bahwa arsitektur konsol modern pada dasarnya adalah komputer yang terkunci.
Dunia modifikasi konsol kembali diguncang oleh temuan terbaru dari Andy Nguyen, yang lebih dikenal dengan nama panggung TheFlow. Ia baru saja mempublikasikan proyek bertajuk ps5-linux di GitHub. Bukan sekadar demonstrasi teknis, alat ini benar-benar mampu mengubah PlayStation 5 (PS5) menjadi mesin desktop berbasis Ubuntu 24.04 yang bisa menjalankan berbagai aplikasi PC.
Secara arsitektur, PS5 memang selalu menjadi "PC dalam balutan konsol" dengan jeroan AMD Zen 2 dan GPU RDNA 2. Selama ini, Sony memegang kendali penuh atas apa yang boleh berjalan di atas perangkat keras tersebut melalui lapisan keamanan yang ketat. Proyek ps5-linux berhasil menembus batasan ini dengan memanfaatkan kerentanan pada hypervisor yang sebenarnya sudah ditambal oleh Sony pada versi perangkat lunak terbaru.
Syarat Ketat Firmware dan Model Konsol
Meski terdengar menggiurkan, modifikasi ini tidak bisa diaplikasikan ke sembarang PS5 yang ada di ruang tamu Anda. Saat ini, metode tersebut hanya kompatibel dengan PS5 model "Phat" atau versi peluncuran awal. Selain itu, konsol harus berada pada versi firmware yang sangat spesifik, yakni rentang 3.00 hingga 4.51.
Ada perbedaan fungsionalitas yang cukup krusial antar versi firmware tersebut. Pengguna dengan firmware 3.xx belum mendapatkan dukungan untuk slot SSD M.2, sementara pengguna di versi 4.xx sudah bisa memanfaatkannya. Pembatasan firmware ini menjadi tantangan besar mengingat sebagian besar pengguna biasanya selalu memperbarui sistem mereka ke versi terbaru untuk bisa bermain secara daring.
Ritual Booting yang Tak Sederhana
Proses menjalankan Linux di PS5 jauh dari kata praktis jika dibandingkan dengan instalasi Windows atau Linux di PC konvensional. Pengguna membutuhkan alat terpisah bernama exploit umtx2 untuk eksekusi kode awal. Prosesnya melibatkan pengaturan server DNS palsu dan host HTTPS lokal untuk mengelabui konsol saat mengakses manual pengguna di menu pengaturan.
Setelah exploit berhasil dipicu, konsol akan masuk ke mode istirahat (rest mode) dengan indikator LED berwarna oranye statis. Begitu tombol daya ditekan kembali, sistem tidak akan masuk ke antarmuka PlayStation, melainkan melakukan proses booting langsung ke kernel Linux. Pengguna juga diwajibkan menyediakan unit penyimpanan USB minimal 64 GB untuk menampung sistem operasi tersebut.
Potensi Performa dan Batasan Perangkat
Begitu masuk ke lingkungan Linux, PS5 bertransformasi menjadi komputer x86 yang sangat bertenaga. Sistem dapat mengakses penuh 8 core dan 16 thread CPU pada kecepatan 3,5 GHz, serta GPU yang berjalan di 2,23 GHz. Dukungan output video pun sudah mencapai resolusi 4K pada 60 Hz melalui port HDMI bawaan, lengkap dengan fungsionalitas penuh pada seluruh port USB.
TheFlow mengonfirmasi bahwa sistem ini mampu menjalankan game dari pustaka Steam serta berbagai emulator dengan sangat lancar. Dalam sebuah demonstrasi di platform X, terlihat versi peningkatan (enhanced version) dari 'GTA V' berjalan stabil di atas loader tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa potensi mentah hardware PS5 sebenarnya sangat mumpuni untuk menangani beban kerja di luar skenario gaming konsol.
Namun, perlu dicatat bahwa ps5-linux bersifat soft mod, bukan instalasi permanen. Artinya, pengguna harus mengulangi seluruh proses eksploitasi setiap kali konsol dimatikan atau dinyalakan ulang. Selain itu, masalah termal menjadi perhatian serius karena sistem pendingin konsol tidak dirancang untuk pola beban kerja Linux, sehingga pengguna disarankan untuk mengaktifkan profil kipas secara manual agar perangkat tidak mengalami overheat.
Visi PC-Konsol ala Steam Deck
Langkah modifikasi ini membawa ingatan kita pada filosofi Steam Machine milik Valve atau Steam Deck yang sukses di pasaran. Bedanya, Valve membangun ekosistemnya sejak awal agar terbuka bagi sistem operasi apa pun. Sementara itu, apa yang terjadi pada PS5 saat ini adalah upaya paksa untuk "memerdekakan" hardware dari ekosistem tertutup Sony.
Bagi komunitas modder di Indonesia, temuan ini mungkin lebih bersifat eksperimental daripada solusi penggunaan harian. Namun, keberhasilan menjalankan Ubuntu 24.04 di PS5 adalah bukti nyata bahwa batas antara konsol dan PC kini hanya dipisahkan oleh barisan kode perangkat lunak, bukan lagi oleh perbedaan arsitektur fisik.