Rentetan peretasan protokol DeFi memicu kekhawatiran serius di kalangan lembaga keuangan tradisional global yang bersiap masuk ke ekosistem kripto. State Street memperingatkan perlunya solusi keamanan segera sebelum aset bernilai triliunan dolar dipindahkan ke jaringan blockchain. Isu ini menjadi sorotan utama bagi institusi yang menginginkan perlindungan aset lebih ketat.
Bulan lalu menjadi periode kelam bagi ekosistem decentralized finance (DeFi) setelah serangkaian serangan siber menguras dana dalam jumlah fantastis. Protokol pinjaman on-chain Drift kehilangan 295 juta dolar AS akibat eksploitasi pada awal April, disusul serangan terhadap KelpDAO dengan skala kerugian yang hampir sama di akhir bulan. Maraknya peretasan ini mempertegas kerentanan infrastruktur blockchain saat ini.
Dennis Bree, Head of Institutional di protokol Morpho, menyebut April kemungkinan besar menjadi bulan dengan jumlah peretasan terbanyak di sektor DeFi sepanjang tahun ini. Situasi tersebut memaksa para kurator DeFi untuk melakukan uji tuntas atau due diligence yang jauh lebih ketat. Fokus utamanya kini beralih pada pemahaman mendalam terhadap vektor keamanan dan aset dasar yang digunakan sebagai jaminan.
Kesiapan Infrastruktur untuk Aset Dunia Nyata
Kekhawatiran tersebut diamini oleh Angus Fletcher, Head of Digital Assets di raksasa perbankan kustodian State Street. Berbicara di ajang Consensus Miami, Fletcher menekankan bahwa industri kripto yang masih muda ini harus segera menemukan solusi teknis sebelum triliunan dolar aset dunia nyata (Real-World Assets/RWA) masuk ke dalam jaringan on-chain.
"Apa saja hal yang sebenarnya perlu kita selesaikan sekarang untuk masa depan di mana kita memiliki aktivitas senilai triliunan dolar di atas rantai (blockchain)? Kita harus mulai mengurai masalah-masalah tersebut sekarang," ujar Fletcher. Baginya, industri tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk membangun pagar pengaman yang memadai bagi perusahaan keuangan tradisional besar.
Tantangan Legalitas dan Standar Akuntansi
Selain aspek keamanan teknis, ketidakpastian hukum menjadi penghalang besar bagi keterlibatan institusi. Fletcher menyoroti pentingnya kejelasan mengenai hak dan kepemilikan legal ketika sebuah token berpindah antar-blockchain yang berbeda. Tanpa pemahaman hukum yang jelas dalam transaksi lintas rantai (cross-chain), institusi sulit untuk melakukan skala operasional secara aman.
Hambatan lain muncul dari sisi operasional internal perusahaan, terutama terkait perlakuan akuntansi. Dennis Bree menjelaskan tantangan yang dihadapi oleh Chief Financial Officer (CFO) di perusahaan bendahara saat berhadapan dengan receipt token. Karakteristik token ini unik; alih-alih jumlah tokennya yang bertambah, nilai dari token tersebut yang meningkat di dalam digital vault.
- Institusi membutuhkan interoperabilitas yang terdefinisi dengan jelas untuk skala keamanan.
- Kurator aset kini menuntut transparansi lebih tinggi dalam pengelolaan modal di blockchain.
- Banyak area abu-abu regulasi yang masih menjadi penghalang harian bagi keterlibatan institusi besar.
Laporan Kinerja MicroStrategy
Di sisi lain industri, MicroStrategy melaporkan kerugian bersih sebesar 12,54 miliar dolar AS pada kuartal pertama (Q1). Perusahaan saat ini memegang 818.334 bitcoin dengan biaya rata-rata perolehan sebesar 75.537 dolar AS per BTC. Meski mencatat kerugian besar, Executive Chairman Michael Saylor mengusulkan strategi baru untuk mendukung pembagian dividen perusahaan.
Saylor menyarankan penggunaan hasil penjualan bitcoin untuk membayar dividen kepada pemegang saham. Saat ini, perusahaan memiliki cakupan dividen selama sekitar 18 bulan terhadap kewajiban tahunan sebesar 1,5 miliar dolar AS. Pengumuman ini sempat memicu penurunan harga saham perusahaan sebesar 4 persen pada sesi perdagangan setelah jam kerja.