Pencarian

Pemkab Melawi Rancang Branding Daerah Berkelanjutan untuk Investasi Hijau

Rabu, 06 Mei 2026 • 20:22:31 WIB
Pemkab Melawi Rancang Branding Daerah Berkelanjutan untuk Investasi Hijau
Forum BEPEKAT di Melawi membahas perumusan branding daerah berkelanjutan untuk investasi hijau.

NANGA PINOH — Pemerintah Kabupaten Melawi mulai menyusun identitas baru daerah yang mengedepankan keseimbangan lingkungan, sosial, dan ekonomi. Melalui forum diskusi "BEPEKAT", otoritas setempat bersama para pemangku kepentingan berupaya merumuskan citra kabupaten yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional tanpa merusak ekosistem lokal.

Kepala Bapperida Kabupaten Melawi, Silvani Umran, memaparkan bahwa forum partisipatif ini menjadi wadah untuk menghimpun gagasan dari berbagai lini masyarakat. Agenda ini terlaksana berkat kolaborasi antara pemerintah daerah dengan program Together for People and Planet yang mendapat dukungan penuh dari WWF Indonesia.

Mengatasi Paradoks Pembangunan di Wilayah Kaya Sumber Daya

Akademisi Universitas Tanjungpura, Aji Ali Akbar, yang hadir sebagai narasumber menyoroti adanya paradoks pembangunan di daerah yang memiliki kekayaan alam melimpah. Menurutnya, tantangan kesejahteraan seperti kemiskinan dan stunting sering kali masih membayangi wilayah dengan sumber daya alam besar jika tidak dikelola dengan konsep yang tepat.

"Branding bukan sekadar slogan atau logo, tetapi janji keunggulan kompetitif yang harus lahir dari karakter unik daerah," ujar Aji Ali Akbar saat memaparkan materi tentang Strong Sustainability.

Dosen Magister Lingkungan ini menekankan bahwa lingkungan hidup harus diposisikan sebagai fondasi utama dalam setiap perencanaan. Ia menawarkan sejumlah opsi identitas bagi Melawi, mulai dari "Melawi Lestari Berdaya" hingga "Green Heart of Inland Borneo", mengingat posisi geografisnya yang berada dalam kawasan jantung Kalimantan.

Optimalkan 70 Persen Kawasan Hutan Sebagai Keunggulan Kompetitif

Perwakilan FPBM, Nasihin, menilai selama ini kondisi geografis Melawi yang didominasi kawasan hutan sering dianggap sebagai kendala bagi percepatan pembangunan. Padahal, jika dikelola dengan strategi branding yang tepat, status tersebut justru menjadi instrumen kuat untuk membuka peluang investasi hijau dan promosi potensi lokal.

"Selama ini kondisi tersebut kerap dianggap sebagai hambatan pembangunan. Padahal, jika dikelola dengan tepat, justru bisa menjadi peluang besar bagi Melawi," tegas Nasihin.

Ia menambahkan bahwa sosialisasi mengenai pembangunan berkelanjutan tidak boleh berhenti di ruang formal. FPBM aktif mendorong diskusi serupa di ruang-ruang informal seperti warung kopi agar pemahaman mengenai ekonomi berkelanjutan dapat lebih diterima secara luas oleh masyarakat awam.

Bukan Sekadar Slogan, Branding Jadi Acuan Pembangunan

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Melawi, Jaya Sutardi, yang mewakili Bupati, menegaskan bahwa perumusan identitas daerah ini memiliki fungsi vital dalam perencanaan jangka panjang. Branding yang kuat akan menjadi acuan bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam menyusun program kerja yang selaras dengan visi daerah.

"Melawi bukan sekadar membangun slogan, tetapi merumuskan identitas daerah yang berbasis data, kajian akademik, dan kesepahaman bersama," ungkap Jaya saat membacakan sambutan resmi Bupati Melawi.

Diskusi BEPEKAT ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, DPMD, KPH Wilayah Melawi, tokoh masyarakat adat, hingga kalangan akademisi dan media. Hasil dari diskusi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret, termasuk integrasi branding dengan mitigasi risiko bencana seperti banjir dan kebakaran hutan, serta penguatan sektor ekowisata daerah.

Bagikan
Sumber: suarakalbar.co.id

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks